Senin, 16 Juni 2014

makalah pendidikan karakter berbasis religi



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Sejak tahun 2010 telah banyak didengungkan mengenai pendidikan karakter. Pada dasarnya pendidikan karakter ini dirumuskan guna membentuk bangsa yang kuat dan berkarakter, bermartabat serta diegani di dunia internasional. Untuk mendapatkan bangsa dan negara yang semacam itu perlu penerapan pendidikan karakter yang benar. Semua elemen kenegaraan dan bangsa harus ikut andil dalam pelaksanaan pendidikan karakter ini. Berbagai ranah baik itu pendidikan maupun yang lainnya harus ikut membangun karakter bangsa secara utuh.
Dari adanya wacana dan semangat membentuk pribadi bangsa yang berkarakter, muncullah berbagai variasi dari pendidikan karakter ini. Kita tahu bahwa dalam pendidikan karakter terdapat banyak nilai-nilai yang wajib untuk ditumbuhkan, dikembangkan, dan dilaksanakan. Nilai-nilai yang terdapat dalam pendidikan karakter diantaranya adalah jujur, disiplin, toleransi, cinta tanah air, dsb. Dari nilai-nilai tersebut terbentuklah banyak model pembelajaran karakter ini.
Tentu saja dengan model-model pembelajaran nilai karakter yang berbeda-beda akan semakin memudahkan guru dalam menyampaikan dan mengajarkan serta mendidik nilai-nilai karakter pada peserta didik. Semakin mudah guru menyampaikan makin mudah pula peserta didik dalam menangkap dan menumbuhkan nilai-nilai karakter dalam dirinya masing-masing. Tidak dapat dikatakan mudah pula untuk dapat menerapkan nilai-nilai karakter secara konsisten. Kita tahu bahwa kondisi yang ada pada bangsa ini telah terlalu memprihatinkan. Sehingga perlu kerja keras untuk dapat menumbuhkan dan melaksanakan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam model pembelajaran pendidikan karakter terdapat beberapa variasi seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa terdapat pendidikan nilai karakter dengan basis kasih sayang, media massa, IT, agama, dsb. Dari adanya berbagai basis yang dapat digunakan untuk pembelajaran nilai karakter, dalam makalah ini penulis akan memaparkan mengenai salah satu basis pembelajaran dari nilai-nilai karakter. Dimana pembelajaran nilai-nilai karakter dengan basis ini dirasa paling pokok, mendasar, dan efektif untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter, mengontrol perilaku dan membentuk karakter bangsa. Pembelajaran nilai-nilai karakter berbasis agama atau religi inilah yang akan penulis bahasa pada amakalah ini.

  1. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana definisi dari pendidikan karakter ?
2.      Bagaimana pengertian dan prinsip dari pendidikan karakter berbaris religi ?
3.      Bagimana prinsip pengembangan atau Grand Design dari pendidikan karakter ?
4.      Bagaimana tujuan dan fungsi dari pendidikan karakter berbasis religi ?
5.      Bagaimana implementasi pendidikan karakter dengan basis religi ?
6.      Bagaimana kelebihan dan kelemahan dari pendidikan berbasis religi ?

  1. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Nilai Karakter. Selain itu, terdapat tujuan lain dari penulisan makalah ini yakni sebagai pedoman atau informasi bagi rekan-rekan dan khalayak umum dalam memahami pendidikan karakter yang berbasis religi/agama. Dari adanya tujuan tersebut, penulis berharap makalah ini dapat digunakan sebagaimana mestinya. Serta dapat menjadi pedoman atau tolak ukur dalam melaksanakan pendidikan berbasis karakter melalui perspektif religi/agama.


  1. Manfaat Penulisan

1.      Mengetahui definisi dari pendidikan karakter dan perspektif agama dalam karakter.
2.      Mengetahui tujuan dan prinsip dari pendidikan karakter berbasis religi/agama.
3.      Dapat mengetahui implementasi dari pendidikan karakter berbasis religi/agama.
4.      Mengetahui kelebihan dan kelemahan dari pendidikan karakter berbasis religi.











BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan Karakter merupakan pendidikan yang didasarkan pada pembelajaran yang mengandung unsur-unsur nilai karakter di dalamnya. Pembelajaran yang tidak hanya mendidik, mengajar, mempelajari, mencari ilmu untuk sebuah point/nilai. Melainkan pembelajaran yang nantinya akan membantu dalam mengubah diri pribadi seorang individu (peserta didik). Dimana pembelajaran tersebut sangat mengutamakan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini mengisyaratkan bahwa bukan hanya nilai/point/ranking saja yang ingin dicapai melainkan perubahan sikap dan tingkah laku dari individu (peserta didik) itu sendiri. Aspek kognitif akan membantu peserta didik secara teoritis yaitu pengetahuan dalam bentuk yang cenderung tekstual. Sedangkan afektif, adalah aspek yang ingin dicapai dengan mengikutsertakan nilai, norma, moral yang baik. Dimana pembelajaran dari nilai, norma, dan moral tersebut dapat membantu individu (peserta didik) untuk mengenal, menumbuhkan, dan melaksanakan nilai-nilai karakter dengan konsisten serta membudaya. Untuk aspek psikomotorik, dapat dikaitkan dengan gerak aktif individu (peserta didik) dalam merespon setiap kegiatan. Hal ini akan dapat menunjukkan cepat lambatnya respon individu terhadap sesuatu. Dapat dimisalkan seperti pelajaran olahraga dan kesenian, dimana pada saat olahraga saraf motorik individu akan ikut terangsang dan bergerak aktif sesuai tingkatnya masing-masing. Kemudian untuk kesenian, dapat dikaitkan dengan tingkat daya kreatif seseorang dalam berseni.
Dari pemaparan di atas dapat dijelaskan selanjutnya mengenai pengertian dari pendidikan karakter. Pendidikan itu sendiri memiliki banyak pengertian yang dinyatakan oleh beberapa tokoh (ahli). Menurut Hasan Langgulung, dinyatakan bahwa Pendidikan (education) dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Latin ‘educare’ berarti memasukkan sesuatu”. Dari hal tersebut dapat dimaknai bahwa pendidikan berperan dalam menanamkan nilai-nilai tertentu ke dalam kepribadian peserta didik atau siswa. Sedangkan menurut  Driyarkara dalam jurnal yang ditulis Ali Muhtadi (2010: 32), menyatakan bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan usaha atau bentuk upaya untuk memanusiakan manusia. Hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan tidak hanya sekedar membantu dalam mencerdaskan siswa secara intelek, melainkan membantu peserta didik menemukan kepribadiannya secara keseluruhan dan utuh dimana perkembangan kepribadian manusia (siswa) dapat sesuai dengan nilai moral. Selain itu, terdapat pendapat lain dari Yahya Khan, Pendidikan merupakan sebuah proses yang menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, menata, dan mengarahkan.
Berdasarkan beberapa pengertian dari pendidikan dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana yang disusun dan dilakukan untuk mengembangkan potensi peserta didik. Perkembangan tersebut dapat meliputi potensi intelektual, sikap atau perilaku dan keterampilan. Karena hal itulah, maka pendidikan merupakan aktivitas terencana yang diselenggarakan oleh masyarakat yang didalamnya termasuk keluarga atau pendidikan informal dan non-formal, lembaga agama, bahkan oleh bangsa dan negara melalui pendidikan formal yang berlandaskan pada pengaturan kurikulum. Hal ini diperjelas dengan UU No 20 Tahun 2003 mengenai Pendidikan Nasional, dimana dipaparkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta kehidupan bangsa yang bermoral, bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Setelah mengetahui dan memahami mengenai pengertian pendidikan, dapat diketahui dan dijabarkan mengenai pengertian dari karakter. Karakter menurut Kemendiknas  (2010), merupakan watak, tabiat, akhlak, dan perilaku serta kepribadian yang terbentuk dari internalisasi sebagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai pedoman untuk cara pandang, berpikir, berkata, bertindak dan bersikap. Sedangkan untuk pengertian karakter menurut ahli yakni pendapat dari Darmiyati (2006:5) menyatakan bahwa sistem pendidikan yang sesuai dengan pendidikan karakter yang positif adalah pendidikan yang humanis. Menurut Tadkiratun Musfiroh karakter mengacu pada serangkaian sikap atau perilaku, motivasi, dan ketrampilan yang meliputi keinginan untuk melakukan hal yang paling baik.
Setelah mengetahui beberapa pendapat dari para pakar mengenai pendidikan dan karakter, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian dari pendidikan karakter adalah, seperti yang dikemukakan oleh Megawangi dalam buku Darmiyati, dimana dalam buku tersebut dikemukakan bahwa pendidikan karakter berfungsi sebagai usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari hal tersebut, mereka dapat berkontribusi langsung dalam lingkungannya. Dapat juga diambil kesimpulan dari pengertian nilai dan moral sebagai berikut, nilai merupakan sesuatu yang diinginkan dan akan dicapai dengan melakukan sesuatu. Moral adalah adat kebiasaan atau cara hidup, moral ini sangat terkait dengan tanggungjawab sosial dan etika. Dari pengertian tersebut, pendidikan karakter kurang lebih sama dengan etika dan moral yang terkait dengan nilai-nilai yang diyakini seseorang dan diterapkan dalam hubungannya dengan kehidupan sosial yakni tanggungjawab sosial. Sedangkan untuk manusia yang berkarakter adalah individu yang menggunakan seluruh potensi diri, menakup pikiran, nurani, dan tindakannya seoptimal mungkin untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Sedangkan pengertian pendidikan karakter menurut Kemendiknas (2010: 4), dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Pendidikan karakter juga diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik (siswa). Dari hal itu, guru harus dapat menjadi teladan bagi siswanya. Guru harus mampu memberikan contoh, bagaimana ketika berbicapa, bertindak, dan melakukan toleransi terhadap teman-temannya. Dapt dikatakan bahwa tugas guru yang paling utama dalam pelaksanaan pendidikan karakter adalah mampu menjadi teladan dan membantu siswa dalam menemukan dan membantu serta mengembangkan watak peserta didik tersebut dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

  1. Pengertian dan Prinsip Pendidikan Karakter Berbasis Religi
Telah dipaparkan dengan jelas pada pembahasan sebelumnya bahwa pendidikan karakter memiliki pengertian yang terkait erat dengan moral dan etika. Dimana sehubungan dengan hal itu, pada dasarnya agama atau religi juga mengutamakan aspek moral dan etika dalam nilai-nilainya. Sehingga, ketika pembelajaran pendidikan karakter diberikan melalui aspek-aspek keagamaan atau berbasis pada religi, maka akan membentuk suatu kombinasi yang baik tanpa ada nilai-nilai yang saling berlawanan atau bertolak belakang. Hal ini dikarenakan agama merupakan salah satu sumber nilai dalam membangun pembelajaran pendidikan karakter. Dimana dari sumber keagamaan tersebut muncullah nilai religi sebagai salah satu nilai yang menjadi bagian atau unsur yang membentuk karakter individu (bangsa). Selain itu, pendidikan karakter yang diajarkan melalui nilai-nilai keagamaan atau berbasis religi ini merupakan salah satu jenis dari pendidikan karakter yang dapat dilaksanakan dalam pembelajaran di sekolah/ lembaga pendidikan.
Mengenai pendidikan karakter berbasis religi ini lebih lanjut dijelaskan oleh Azzet bahwa dalam pendidikan karakter, diantara nilai karakter yang baik untuk dikembangkan dalam pribadi seseorang adalah bertanggungjawab, jujur, dapat dipercaya, menepati janji, ramah, peduli pada orang lain, percaya diri, pekerja keras, bersemangat, tekun, tidak mudah putus asa, dapat berpikir secara rasional dan kritis, kreatif dan inovatif, dinamis, bersahaja, rendah hati, tidak sombong, sabar, cinta ilmu dan kebenaran, rela berkorban, berhati-hati, bisa mengendalikan diri, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang buruk, mempunyai inisiatif, setia menghargai waktu, dan bisa bersikap adil.  Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
Berlandaskan hal tesebut, kita tahu bahwa mayoritas penduduk Indonesia menganu ajaran agama yang berbeda-beda dengan mayoritas Islam (tanpa mengesampingkan agama lain). Berdasarkan hal itu, menurut Siswanto dalam jurnalnya “Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-nilai Religius”, dapat diuraikan secara lebih spesifik, bahwa pendidikan karakter yang berbasis religius mengacu pada nilai-nilai dasar yang terdapat dalam agama (Islam). Nilai-nilai karakter yang menjadi dasar pendidikan karakter dapat bersumber dari keteladanan Rasulullah yang dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari beliau. Sumber yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pendidikan karakter dapat disebut sebagai prinsip. Karena dalam pembahasan ini berkenaan dengan karakter berbasis religi, maka sumber dari pendidikan karakter yang dapat dijadikan sebagai prinsip pendidikan karakter yang berbasis religi berhubungan erat dengan nilai-nilai keagamaan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah seperti yang telah disinggung pada kalimat sebelumnya. Prinsip-prinsip yang bersumber dari nilai agama (Islam) yang digunakan dalam merekonstruksi pendidikan karakter berbasis religi yakni :
1.      Shiddiq
Shiddiq merupakan perilaku yang diartikan dan dimaknai secara harfiah atau bahasa sebagai perilaku jujur.  Pengertian dari shiddiq itu sendiri merupakan sebuah kenyataan yang benar yang tercermin dalam perkataan, perbuatan, tindakan dan keadaan batinnya. Pengertian shiddiq tersebut dapat diuraikan dalam beberapa butir, yakni : a. Memiliki sistem keyakinan untuk merealisasikan visi, misi, dan tujuan b. Memiliki kemampuan kepribadian yang stabil, arif, dewasa, mantap, jujur menjadi teladan, berwibawa, dan berakhlak mulia. Sifat jujur merupakan salah satu dari 18 nilai-nilai karakter. Dimana kejujuran ini juga menjadi nilai-nilai yang mendasar untuk diajarkan pada individu (peserta didik).
2.       Amanah
Amanah merupakan sikap atau perilaku seseorang yang dapat menjalankan dan menepati setiap janji serta tanggungjawabnya. Atau dapat diartikan juga bahwa amanah adalah sebuah kepercayaan yang harus ditanggung dalam mewujudkan sesuatu yang dilakukan dengan penuh komitmen, kompeten, kerja keras dan konsisten. Pengertian amanah ini dapat dijabarkan ke dalam butir-butir yakni :
a) rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi
b) memiliki kemampuan mengembangkan potensi secara optimal
c) memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup dan
d) memiliki kemampuan membangun kemitraan dan jaringan.

3.      Tabligh
Tabligh merupakan perilaku seseorang yang berusaha menyampaikan pesan atau amanat yang diberikan kepadanya untuk disampaikan pada seseorang yang dituju. Sehingga, sifat Tabligh ini masih dalam runtutan dari sifat jujur dan amanah. Ketika seseorang dapat dengan jujur dan mampu menyampaikan amanat yang diberikan padanya, maka ia akan dipercaya. Karena itulah, sifat-sifat ini pantas menjadi prinsip dari terbentuknya pendidikan nilai karakter berdasarkan nilai agama/ religi (Islam). Tidak hanya itu, Tablîgh adalah sebuah upaya merealisasikan pesan atau misi tertentu yang dilakukan dengan pendekatan atau metode tertentu. Dapat diuraikan mengenai pengertian ini diarahkan pada :
a) memiliki kemampuan merealisasikan pesan atau misi,
b) memiliki kemampuan berinteraksi secara efektif, dan
c) memiliki kemampuan menerapkan pendekatan dan metodik yang tepat.
4.      Fathonah
Fathonah merupakan salah satu sifat dari Rasulullah, fathonah ini berarti cerdas. Pengertian secara utuh dari fathonah adalah sifat yang meliputi kecerdasan, kemahiran, atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Karakteristik jiwa fathanah meliputi arif dan bijak, integritas tinggi, kesadaran untuk belajar, sikap proaktif, orientasi kepada Tuhan, terpercaya dan ternama, menjadi yang terbaik, empati dan perasaan terharu, kematangan emosi, keseimbangan, jiwa penyampai misi, dan jiwa kompetisi. Sifat fathanah ini dapat dijabarkan ke dalam butir-butir :
a.       memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan dan perubahan zaman
b.      memiliki kompetensi yang unggul, bermutu dan berdaya saing
c.       memiliki kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual. Inilah prinsip keempat yang melengkapi ketiga prinsip lainnya, dimana setiap prinsip masih saling berkesiambungan dan membentuk sifat atau kepribadian yang luhur.
Melalui prinsip-prinsip secara agama (Islam) tersebut tanpa mengesampingkan agama lain dimana sebenarnya terdapat ajaran yang tidak berbeda jauh dalam hal bermoral dan beretika, pada dasarnya setiap agama sama dalam membentuk umat yang patuh pada moral dan etika. Sehingga dengan prinsip tersebut, dapat dijadikan sebagai dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan nilai-nilai karakter lainnya. Dimana dengan ditambah berbagai sumber lainnya, maka muncul berbagai nilai karakter yang dapat ditanamkan pada diri individu (peserta didik). Dimana diantaranya adalah nilai religi yang  merupakan hasil dari sumber keagamaan, dan toleransi, peduli lingkungan sebagai hasil dari sumber sosial. Setelah memahami mengenai prinsip dari pendidikan karakter berbasis agama/ religi, maka selanjutnya akan dibahas tentang pengertian dari pendidikan karakter berbasis religi itu sendiri.
Pendidikan karakter merupakan upaya mengembangkan potensi peserta didik dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa agar mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai warga negara. Sedangkan menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter adalah upaya terencana dalam membantu seseorang untuk memahami, peduli, dan bertindak atas nilai-nilai etika/ moral. Berdasarkan hal tersebut, kemudian dirangkai dengan pengertian agama atau religi yakni sistem keyakinan yang dimiliki setiap individu terhadap Sang Pencipta dimana agama ini merupakan agama langit yang datangnya atau turunnya dari Tuhan melalui firman-Nya (agama samawi) dan bukan merupakan agama bumi atau buatan manusia. Agama juga merupakan sistem pengontrol dan pemberi petunjuk serta menjadi pedoman bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dari agama ini pula manusia telah mengenal dan diajarkan tentang bagaimana berpikir baik, bertutur kata yang baik, dan berperilaku baik sesuai dengan nilai, norma, dan moral yang sesuai dengan aturan. Sehingga, pada hakikatnya sejak lahir kita telah diberi anugerah yakni agama yang mampu menjadi dinding kokoh dan pembatas dari hal-hal yang menyimpang. Agama merupakan hak yang paling hakiki bagi setiap manusia. Maka dari itu, setiap manusia berhak memeluk agamanya masing-masing. Apapun agamanya pada dasarnya sama-sama menjadi pilar, pondasi, dinding pembatas, dan pelindung dari berbagai pengaruh buruk dunia.
Berdasarkan hal tersebut, pendidikan karakter berbasis religi ini adalah kebenaran wahyu tuhan. Kebenaran wahyu tersebut yang selanjutnya dimasukan ke dalam mata pelajaran. Pendidikan karakter berbasis religi ini mengupayakan pendidikan yang mengembangkan potensi peserta didik, membantu menemukan pribadi peserta didik yang berkarakter dan berbudaya, menanamkan nilai-nilai karakter yang terpuji secara konsisten pada diri individu (peserta didik) dibarengi dengan penanaman nilai-nilai agama di dalamnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa agama menjadi tembok pembatas paling kuat terhadap berbagai penyimpangan, karena itulah dengan pendidikan karakter yang berbasis agama/ religi, pembelajaran yang melibatkan nilai-nilai karakter dapat berjalan baik dan konsisten dengan selalu dipantau dan dikontrol oleh agama. Ketika individu telah menanamkan nilai karakter dalam dirinya dengan dibarengi adanya nilai keagamaan yang membuatnya selalu merasa bahwa Tuhan selalu melihat dan bersamanya, maka akan lebih kuat filter (penyaring) untuk melakukan hal-hal yang kurang baik. Berbeda dengan individu yang hanya tahu tentang nilai karakter dan tidak dibekali dengan ilmu agama, maka tidak akan menjadikannya konsisten dalam menerapkan nilai-nilai karakter dan agama, masih terdapat kemungkinan melakukan penyimpangan.
Dari uraian di atas, perlu kita ketahui pula bahwa sebagai bagian dari pendidikan nasional, pendidikan berbasis agama mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam rangka mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Dapat diperkuat dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Pasal 2 ayat (1) secara tegas menyatakan bahwa Pendidikan Agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama. Berdasarkan hal tersebut, semakin menjelaskan bahwa pendidikan agama dapat menyinggung mengenai permasalahan toleransi antarumat beragama. Adanya nilai toleransi tersebut sama dengan nilai yang terdapat pada pendidikan karakter, maka dari itu pendidikan karakter yang berbasis agama/ religi dapat dikatakan efektif untuk membangun dan mengubah karakter bangsa. Dengan begitu pentingnya agama di sekolah dan perguruan tinggi sebagaimana dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan di atas, maka agama (Islam dan yang lain) memainkan peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam ikut serta mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berhaluan pada karakter bangsa dan budaya.



  1. Prinsip Pengembangan Pendidikan Karakter (Grand Design)
Secara prinsipil, pengembangan karakter tidak termasuk kedalam sebuah pokok bahasan akan tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya satuan pendidikan. Oleh karenanya, pendidik dan satuan pendidikan kiranya perlu untuk mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter ke dalam kurikulum dan silabus yang telah ada. Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter mengupayakan agar setiap individu peserta didik dapat mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai miliknya dan juga dapat bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal, menilai, dan menentukan pilihannya, serta selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri yang ada pada setiap individu (peserta didik). Dengan prinsip tersebut, peserta didik dapat belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses belajar tersebut dirumuskan agar dapat mengembangkan kemampuan setiap peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial. Sesuai harapan yang ingin diwujudkan tersebut, beberapa hal yang dapat digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter, seperti :

1)      Kerangka Pengembangan Budaya Sekolah
Budaya sekolah merupakan suasana kehidupan sekolah dimana peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan peserta didik, antar tenaga kependidikan, antara tenaga kependidikan dengan pendidik dan peserta didik, dan antar anggota kelompok masyarakat dengan warga sekolah-sekolah (Kemendiknas, 2010: 19). Interaksi internal kelompok dan antar kelompok terikat oleh berbagai aturan, norma, moral serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah. Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab adalah nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah.
Selain itu, budaya sekolah dipercayai sebagai salah satu aspek yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak. Berdasrkan penelitian yang dilakukan oleh Teerakiat Jareonsttasin tentang pengaruh sekolah terhadap perkembangan anak, dapat ditemukan empat hal utama atau pokok (input dan output) yang saling mempengaruhi. Di dalam sekolah, iklim atau budaya sekolah menjadi hal yang terpenting. Apabila suasana sekolah penuh kedisiplinan, kejujuran, kasih sayang maka hal tersebut akan mampu menghasilkan output yang diinginkan berupa karakter yang baik. Pada kondisi yang sama, guru akan merasakan kedamaian dan suasana sekolah yang demikian itu akan dapat meningkatkan pengelolaan kelas (http://katresna72.wordpress.com, diakses tanggal 10 Mei 2011).
Sejalan dengan pengelolaan kelas yang baik maka akan mampu meningkatkan prestasi akademik menjadi lebih baik atau tinggi. Temuan lainnya yang tidak kalah penting adalah ketika siswa memiliki karakter yang baik, maka hal itu akan mempengaruhi secara langsung terhadap peningkatan dalam aspek prestasi akademik yang tinggi. Oleh karena itu, langkah pertama yang dapat diambil dalam mengaplikasikan pendidikan karakter di sekolah adalah dengan menciptakan atau membangun suasana/iklim sekolah yang baik sehingga akan membantu transformasi guru-guru dan siswa, juga staf-staf sekolah. Di mana dalam hal tersebut, termasuk tercantumnya aspek objektif atau tujuan yang tepat untuk sekolah, misi sekolah, kepemimpinan sekolah, kebijakan dan visi pihak manajemen moral para staf dan guru, serta partisipasi orang tua dan siswa. Semua langkah yang terdapat dalam model pembelajaran nilai-nilai karakter tersebut akan memiliki kontribusi terhadap budaya sekolah.

2)      Integrasi Nilai dalam Kegiatan Intrakurikuler dan Kokurikuler
Nurul Zuriah (2007:107) menyatakan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dapat dilakukan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan (konselor) secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidik dan diterapkan ke dalam kurikulum melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
a)         Kegiatan rutin sekolah
Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah: upacara pada hari besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan (kuku, telinga, rambut dan lain-lain) setiap hari Senin, beribadah bersama/sembahyang bersama setiap dluhur (bagi yang beragama Islam), berdoa waktu mulai dan selesai pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru/tenaga kependidikan yang lain dan sebagainya.

b)        Kegiatan spontan
Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini dilakukan biasanya pada saat guru dan tenaga kependidikan yang lain mengetahui adanya perbuatan yang kurang baik dari peserta didik yang harus dikoreksi pada saat itu juga. Apabila guru mengetahui adanya perilaku dan sikap yang kurang baik maka pada saat itu juga guru harus melakukan koreksi sehingga peserta didik tidak akan melakukan tindakan yang tidak baik tersebut. Contoh kegiatan tersebut adalah: membuang sampah tidak pada tempatnya, berteriak-teriak sehingga mengganggu pihak lain, berkelahi, melakukan bullying, memalak, berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh dan sebagainya.

c)         Teladan
Keteladanan merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya. Jika guru dan tenaga kependidikan yang lain menghendaki agar peserta didik berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa maka guru dan tenaga kependidikan yang lain adalah orang yang pertama dan utama memberikan contoh bagaimana berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai terebut. Misalnya berpakaian rapi, datang tepat pada waktunya, bekerja keras, bertutur kata sopan, kasih sayang, perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan dan sebagainya.

d)        Pengkondisian
Untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa maka sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung kegiatan tersebut. Sekolah harus mencerminkan kehidupan sekolah yang mencerminkan nilai-nilai dalam budaya dan karakter bangsa yang diinginkan. Misalnya toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, sekolah terlihat rapi dan alat belajar ditempatkan teratur.

3)      Pengintegrasian dalam semua Mata Pelajaran
Pengembangan nilai-nilai dan karakter diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata pelajaran. Nilainilai tersebut dicantumkan dalam Silabus dan Rencana Program Pembelajaran (RPP). Pengembangan nilai-nilai tersebut dalam Silabus ditempuh melalui cara-cara sebaghai berikut.
a) Mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) untuk menentukan apakah kandungan nilai-nilai dan karakter yang secara tersirat atau tersurat dalam SK dan KD di atas sudah tercakup di dalamnya.
b) Menggunakan tabel 1 yang memperlihatkan keterkaitan antara SK/KD dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai yang akan dikembangkan.
c) Mencantumkankan nilai-nilai dan karakter bangsa dalam tabel 1 tersebut ke dalam silabus.
d) Mencantumkan nilai-nilai yang sudah tercantum dalam silabus ke RPP.
e) Mengembangkan proses pembelajaran peserta didik aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai.
f) Memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan untuk internalisasi nilai mau pun untuk menunjukkannya dalam perilaku (Kemendiknas, 2010: 18)

4)      Pembiasaan Perilaku Bermuatan Nilai
Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, sekolah harus menerapkan totalitas pendidikan dengan mengandalkan keteladanan, penciptaan lingkungan dan pembiasaan melalui berbagai tugas dan kegiatan. Sehingga seluruh apa yang
dilihat, didengar, dirasakan dan dikerjakan oleh siswa adalah pendidikan. Selain menjadikan keteladanan sebagai metode pendidikan utama, penciptaan nilai juga sangat penting. Lingkungan pendidikan itulah yang ikut mendidik. Penciptaan lingkungan disekolah dapat dilakukan melalui penugasan, pembiasaan, pelatihan, pengajaran, pengarahan, dan keteladanan. Semuanya mempunyai pengaruh yang tidak kecil dalam pembentukan karakter anak didik. Pemberian tugas tersebut disertai pemahaman akan dasar-dasar filosofisnya, sehingga anak didik akan mengerjakan berbagai macam tugas dengan kesadaran dan keterpanggilan. Setiap kegiatan mengandung unsur-unsur pendidikan, sebagai contoh dalam kegiatan kepramukaan, terdapat pendidikan kesederhanaan, kemandirian, kesetiakawanan dan kebersamaan, kecintaan pada lingkungan dan kepemimpinan. Dalam kegiatan olahraga terdapat pendidikan kesehatan jasmani, penanaman sportivitas, kerja sama (team work) dan kegigihan untuk berusaha. Pengaturan kegiatan di sekolah ditangani oleh organisasi pelajar yang terbagi dalam banyak bagian, seperti Ketua, Sekretaris, Bendahara, Keamanan, Pengajaran, Penerangan, Koperasi Pelajar, Koperasi Dapur, Kantin Pelajar, Bersih Lingkunan, Pertamanan, Kesenian, Ketrampilan, Olahraga, Penggerak Bahasa. Sementara itu pada level asrama ada organisasi sendiri, terdiri dari ketua asrama, bagian keamanan, penggerak bahasa, kesehatan, bendahara dan ketua kamar. Setiap club olah raga dan kesenian juga mempunyai struktur organisasi sendiri, sebagaimana konsulat juga dibentuk struktur keorganisasian. Seluruh kegiatan yang ditangani organisasi pelajar ini dikawal dan dibimbing oleh para guru staf pembantu pengasuhan siswa, dengan dukungan guru-guru senior yang menjadi pembimbing masing-masing kegiatan.

  1. Tujuan dan fungsi  Pendidikan Karakter Berbasis Religi
Setelah membahas mengenai prinsip pengembangan dari pendidikan karakter, dapat dilanjutkan dengan membahas mengenai tujuan dan fungsi dari pendidikan karakter berbasis religi. Tujuan dan fungsi ini nantinya akan menjadi tolak ukur bagi berlangsungnya pelaksanaan atau implementasi pendidikan karakter berbasis religi/ agama. Tujuan dari pendidikan nilai karakter berbasis religi/ agama pada dasarnya sama dengan tujuan diadakannya pendidikan karakter, hanya saja terdapat tujuan dari perspektif agama itu sendiri mengenai pendidikan karakter. Tujuan pendidikan karakter tersebut diantaranya adalah membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, toleransi, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Selain itu terdapat tujuan lain yakni :
1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Selain tujuan tersebut, pendidikan karakter berbasis religi memiliki tujuan yang sesuai dengan nilai keagamaan. Tujuan pendidikan karakter berbasis religi yang dapat mewujudkan tujuan nasional tersebut diantaranya adalah :
a. membentuk peserta didik yang mampu memahami ajaran-ajaran agama dan berbagai ilmu yang dipelajari serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari hari
b. mempersiapkan peserta didik agar memiliki budi pekerti atau akhlak mulia,
c. dapat menguasai ilmu dengan baik dan bermanfaat untuk orang lain

Pendidikan karakter berbasis religi tidak hanya memiliki tujuan saja, melainkan juga berfungsi bagi keberlangsungan karakter bangsa. Sebelum mengetahui fungsi dari pendidikan karakter berbasis religi, dalam hal ini akan terlebih dahulu diuraikan mengenai fungsi-fungsi pendidikan karakter dimana fungsi ini ditunjang dengan fungsi pendidikan karakter berbasis religi/ agama sebagai filter paling kuat bagi perilaku individu. Fungsi-fungsi yang muncul pada hakikatnya sama, memiliki suatu fungsi yang membentuk peserta didik, individu, manusia, masyarakat yang berkarakter, bernilai moral, bermartabat, beragama, beriman, bertaqwa, berilmu/ berpendidikan, dan menjadi bangsa yang bersatu. Fungsi dari pendidikan karakter yakni :
  1. mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
  2.  pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa;
  3. perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat
  4. penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.
Berdasarkan hal tersebut, dapat diuraikan bahwa fungsi pendidikan karakter berbasis religi diantaranya adalah menumbuhkan, membentuk, mengembangkan, dan melaksanakan potensi diri seorang individu (peserta didik) menjadi seorang individu yang berperilaku baik, santun, patuh dan taat terhadap peraturan bermasyarakat dan beragama. Selain itu, pendidikan karakter berbasis religi juga berfungsi sebagai pengaman atau penyaring (filter) pada setiap perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Agama/ religi ini dianggap sebagai penyaring yang paling hakiki dan efektif. Sehingga dengan fungsi pendidikan karakter berbasis religi ini, akan sangat diharapkan adanya perubahan pada diri seorang individu untuk dapat bertindak sesuai nilai-nilai moral, karakter dan agama. Ketiganya berlangsung secara seimbang dan saling melengkapi, dari itulah sikap, perilaku setiap individu untuk menjadi sesuai dengan nilai-nilai karakter akan lebih kuat dan konsisten dengan pengetahuan dan pemahaman keagamaan yang kokoh dalam dirinya. Diperkuat dengan pernyataan bahwa terdapat hubungan antara karakter dengan agama dimana karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat. Untuk pembelajaran di Perguruan Tinggi, dua mata kuliah (Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan) yang termasuk mata kuliah pengembangan kepribadian diarahkan untuk pembentukan karakter para mahasiswa sehingga melahirkan para sarjana yang berakhlak mulia dan pada akhirnya akan menjadi para pemimpin bangsa yang juga memiliki karakter mulia.


  1. Implementasi dari Pendidikan Karakter Berbasis Religi
Penelitian sekarang ini lebih difokuskan pada pembinaan karakter melalui pendidikan agama dengan berbagai aktivitas keagamaan yang ada di satuan pendidikan. Hal ini didasari banyaknya sekolah yang mengupayakan pembinaan karakter melalui pendidikan agama, terutama sekolah- sekolah yang dikelola oleh yayasan agama Islam, Kristen, atau Protestan, maupun oleh yayasan agama yang lain. Berkenaan dengan implementasi pendidikan berbasis karakter, upaya pendidikan dilaksanakan oleh satuan pendidikan melalui kegiatan pengembangan kultur sekolah dan  kurikuler yang meliputi yakni ekstrakurikuler yang didalamnya termasuk intrakurikuler dan kokurikuler. Sedangkan untuk pengembangan kultur sekolah, meliputi kawasan partisipasi sekolah seperti pimpinan sekolah (Kepala Sekolah), guru, siswa, administrasi sekolah, orang tua, karyawan, dan masyarakat sekitar sekolah, dsb. Pembelajaran karakter melalui intrakurikuler dilaksanakan dengan menekankan pada pendidikan keagamaan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Model ini sangat umum diikuti oleh banyak sekolah, dimana dibentuk sedemikian rupa agar dengan pendidikan berbasis agama ini dapat menunjang pendidikan karakter bagi peserta didik dan elemen sekolah. Model intrakurikuler ini diimplementasikan dengan mengintegrasi nilai-nilai karakter tertentu ke dalam silabus atau rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Selain itu, pelaksanaan dari pendidikan karakter berbasis religi melalui model intrakurikuler ini dapat dengan pembiasaan atau pengalaman yang disusun dan diintegrasikan dengan nilai-nilai karakter yang dikemas dalam buku panduan.
Sedangkan untuk kokurikuler yakni dengan melaksanakan ibadah dan pengamalan nilai-nilai terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dicontohkan seperti sholat berjama’ah, sholat dhuha, sholat jum’at berjama’ah, dsb. Kemudian untuk model ekstrakurikuler adalah dengan membentuk organisasi agama dengan bimbingan OSIS dan pembimbing agama dimana organisasi agama dalam sekolah ini dapat melakukan perannya ketika terdapat kegiatan agama seperti puasa romadhon, pembayaran zakat, dsb. Dapat pula dengan bimbingan guru pembimbing dan guru agama yang bersangkutan, kegiatan ekstrakurikuler tersebut antara lain dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan siswa menjadi pengurus/takmir masjid atau mushala pengurus remaja masjid.
Sedangkan untuk kultur budaya melalui pembinaan karakter siswa berbasis pendidikan agama dengan mengembangkan kultur sekolah antara lain menciptakan budaya sekolah yang mencerminkan nilai-nilai karakter yang dibentuk oleh segenap elemen sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, tenaga administrasi, siswa, dan orang tua siswa. Implementasi model pengembangan kultur atau budaya sekolah yang mencerminkan karakter terpuji berbasis pendidikan agama antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya berbeda dan variatif. Selain itu, melalui kultur sekolah, pendidikan karakter berbasis religi dapat dilaksanakan dengan pemberian sanksi-sanksi pada setiap pelanggaran. Dimana sanksi-sanksi ini dapat berupa kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan keagamaan. Sehingga, hukuman atau sanksi yang dekenakan pada setiap pelanggar merupakan sanksi yang mendidik bukan yang merugikan. Dapat pula dilakukan dengan memberi penghargaan pada siswa atau peserta didik yang memperoleh prestasi baik akademik maupun non akademik. Prestasi akademik dapat berupa memenagkan perlombaan atau olimpiade mata pelajaran tertentu, dan untuk non akademi yakni berupa prestasi dalam bidang organisasi. Untuk mengetahui lebih detail mengenai nilai-nilai karakter berbasis agama yang diterapkan di sekolah, dapat diuraikan yakni sebagai berikut :
(1) Ketaatan untuk beribadah kepada Tuhan,
(2) Kepatuhan pada aturan yang bersumber pada kitab suci,
(3) Selalu menerima apa yang ada,
(4) Selalu bersyukur kepada Tuhan,
(5) Keadilan dalam segala hal,
(6) Rasa hormat/respek kepada orang lain,
(7) Empati kepada orang lain,
(8) Kedisiplinan,
(9) Kejujuran,
(10) Keikhlasan/ketulusan dalam berbuat,
(11) Suka memaafkan orang lain,
(12) Kesabaran,
(13) Keberanian dalam membela kebenaran,
(14) Tanggung jawab,
(15) Sopan santun,
(16) Toleransi antar umat beragama,
(17) Kepedulian pada sesama,
(18) Persatuan, dan
(19) Menjauhi perilaku-perilaku tercela
Berdasarkan beberapa model yang diterapkan sebagai wujud implementasi tersebut, tentu dalam prosesnya mengalami kendala atau hambatan. Kendala atau hambatan yang muncul dalam proses implementasi pendidikan karakter berbasis religi ini dapat diuraikan bahwa sebenarnya, tidak ditemukan hambatan yang signifikan. Akan tetapi yang cukup terlihat adalah kendala umum dalam hal penilaian. Artinya pendidikan karakter berbasis agama/ religi di satuan pendidikan ini diintegrasikan pula pada pendidikan agama yang tentu melalui pemberian nilai pula sebagai simbol hasil pencapaian. Berdasarkan hal tersebut, dikhawatirkan pelaksanaan dan pengembangan nilai karakter berbasis agama atau religi berlangsung semata-mata untuk tujuan kognitif saja. Terdapat pula sejumlah kendala yang muncul ketika tidak adanya sinkronisasi yang terjadi antaguru. Dari sekian banyak satuan pendidikan di Indonesia, banyak dari satuan tersebut yang sepakat bahwa pendidikan karakter dengan basis agama ini sangat penting. Namun, tidak semua satuan pendidikan dapat menggunakan dan memasukkan nilai-nilai keagamaan tersebut dalam pembelajaran maupun buku panduan yang digunakannya. Hal ini termasuk dalam kendala dalam pelaksanaan pendidikan yang berbasis karakter dengan nilai-nilai agama. Kemudian, dalam pendidikan karakter berbasis agama/ religi ini pengembangan nilai kemuliaan hanya diajarkan mulia secara personal dan bukan mulia secara sosial. Sehingga perlu pengkajian ulang mengenai hal ini. 
Kendala lain selain kendala tersebut adalah:
1.        Keteladanan (guru) lemah,
2.        Pendanaan yang terbatas untuk menyokong kegiatan ekstrakurikuler berbasis pendidikan agama dan padatnya kegiatan sekolah di luar kegiatan berbasis pendidikan agama,
3.        Kekompakan guru, guru malas memikirkan pengembangan pendidikan karakter, beberapa guru kurang memperhatikan,
4.        Pengaruh penggunaan teknologi informasi,
5.        Adanya tempat penitipan di luar sekolah oleh masyarakat sekitar   sekolah,
6.        Tempat istirahat di luar sekolah yang memungkinkan untuk merokok,
7.        Kehadiran KMS yang jarang masuk sekolah.
Mengetahui adanya kendala-kendala tersebut, setiap elemen dalam sekolah diharapkan dapat melakukan evaluasi pada pembelajaran pendidikan karakter berbasis agama/ religi yang digunakannya. Agar, pencapaian tujuan dari pendidikan karakter dan pendidikan agama berlangsung baik dan efektif. Selain itu, guru-guru dalam saruan pendidikan juga dibekali dengan pengetahuan mengenai tahap atau langkah yang digunakan dalam mengatasi kemungkinan dari dampak buruk yang terjadi akibat pelaksanaan pendidikan karakter berbasis agama/ religi yang kurang tepat.

  1. Kelebihan dan Kelemahan Pendidikan Berbasis Karakter
Kelebihan dan kelemahan dari pendidikan berbasis agama/ religi ini pada dasarnya tidak terlihat secara jelas di permukaan. Akan tetapi dapat sedikit diuraikan dengan melihat pada implementasi dalam pembahasan sebelumnya. Dari pembahasan mengenai implementasi dari pendidikan nilai karakter berbasis agama/ religi ini dapat dianalisiskan bahwa  kelebihan dari pendidikan karakter berbasis agama ini adalah keefektifan dalam mencapai tujuan karakter bangsa yang bermoral dan bertmatabat serta beriman pada Tuhan Yang Maha Esa. Keefektifan dalam mencapai itu semua dapat terwujud dengan kolaborasi yang baik antarkomponen yang meliputi pimpinan, masyarakat, peserta didik, sekolah, orang tua, dsb. Kelebihan yang lain yakni adanya rasa yang tumbuh dalam diri seseorang untuk dapat berperilaku sesuai dengan karakter bangsa tanpa melupakan keyakinannya bahwa Tuhan selalu melihat apa yang dilakukan manusia. Ini menjadi suatu sistem pengendalian tersendiri bagi setiap individu dalam melakukan kehidupan sehari-hari yang berkarakter bangsa dan beriman serta bertaqwa pada Sang Pencipta. Berdasarkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan karakter berbasis religi ini, secara tidak langsung akan menunjukkan kelebihan dari pendidikan tersebut dengan tetap pada prinsipnya atau dalam arti dalam pelaksanaannya tidak dengan diselewengkan.
Selain kelebihan, pendidikan karakter berbasis agama ini juga memiliki kelemahan. Dimana masih sering dijumpai tenaga pendidik yang belum dapat menanamkan dan melaksanakan nilai karakter dan religi dalam dirinya. Dari hal itulah, akan sulit pula menanamkan nilai-nilai karakter dan religi dalam diri seorang peserta didik yang diampunya. Bahkan sering dalam satuan pendidikan/ sekolah, pendidikan keagamaan menjadi salah satu aspek kognitif. Hal tersebut mengartikan bahwa masih terdapat kemungkinan lemahnya nilai-nilai religi yang real/ nyata. Sebab, dengan aspek kognitif tersebut peserta didik cenderung belajar nilai-nilai agama untuk memperoleh nilai bukan atas dasar ingin bertindak sesuai dengan nilai-nilai religi. Apabila pendidikan keagaaman sebagai penunjang pendidikan karakter hanya sebatas memenuhi aspek kognitif, maka penerapan pendidikan karakter dan pendidikan agama/ religi tidak dapat berjalan efektif dan sesuai dengan tujuan.
                                                                                





BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Pendidikan karakter berbasis nilai religi ini pada dasarnya merupakan pendidikan yang berpedoman pada pembentukan dan pengembangan peserta didik yang sesuai dengan nilai karakter dan nilai-nilai keagamaan. Dalam hal ini, agama sangat erat kaitannya dengan karakter dan karakter berhubungan dengan akhlah manusia. Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai religi ini di sekolah atau satuan pendidikan lainnya dapat diimplementasikan dalam beberapa model pembelajaran baik dalam kelas maupun luar kelas. Pendidikan dengan basis ini, dapat dengan melalui Pendidikan Agama. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa belajar pendidikan agama disini bukan hanya belajar saja untuk memperoleh nilai. Melainkan belajar dengan menumbuhkan dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak kegiatan di sekolah yang dapat menunjukkan pembelajaran berbasis religi. Misalkan, dengan kultur sekolah dan kurikuler. Dimana kultur sekolah dapat diartikan sebagai kebiasaan kegiatan yang dilakukan sekolah dalam sehari-harinya. Dapat dicontohkan seperti Sholat Dhuha setiap hari bagi guru, siswa, karyawan, dan elemen sekolah lainnya. Sedangkan ekstrakurikuler yakni dengan pembelajaran di luar kontek belajar utama, misalkan dengan mengikuti organisasi sekolah yang berbasis religi, contohnya ROHIS, ROKRIS, dsb. Dalam pelaksanaan pendidikan berbasis karakter tentu banyak mengalami kendala. Akan tetapi kendala yang muncul tidak terlalu mengganggu, hanya saja hal ini perlu untuk dikaji ulang. Seperti kompetensi guru dalam mendidik karakter dimana hal tersebut dirasa belum sepenuhnya mampu dikuasai.

  1. Saran
Sebagai seorang mahasiswa yang berpendidikan dan dipersiapkan sebagai tenaga pendidik, tentunya harus dapat mengenal dan memahami tentang nilai-nilai karakter. Tidak hanya itu, akan tetapi sebagai calon tenaga pendidik, juga harus dapat memaknai dan melaksanakan nilai-nilai karakter tersebut dalam diri. Sehingga akan diperoleh dan lahir tenaga pendidik yang beriman, bertaqwa, bernilai karakter, bermoral, dan bermartabat sesuai dengan ideologi Bangsa Indonesia yakni Pancasila.














DAFTAR PUSTAKA
Darmiyati Zuchdi dkk. (2009).  Pendidikan Karakter Grand Design dan Nilai-nilai  Target.  Yogyakarta: UNY Press.
Muhammad, Rohmadi dan Taufiq, Ahmad. Pendidikan Agama : Pendidikan Karakter Berbasis Agama , Lingkar Media (2010)
Musfiroh, T. 2008. Pengembangan Karakter Anak Melalui Pendidikan  Karakter dalam  Character Building , (Editor : Arismantoro). Yogyakarta : Tiara Wacana
Muwafik Saleh, Akh., 2012. Membangun Karakter dengan Hati Nurani; Pendidikan  Karakter untuk Generasi Bangsa. Jakarta: Erlangga
Nurul Zuriah. (2007) . Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kemendiknas. 2010. Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum
Marzuki. “Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Agama”. Jurnal Online,dalam http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dr.%20Marzuki,%20M.Ag./40.%20Implementasi%20Pendidikan%20Karakter%20Berbasis%20Nilai%20Agama.pdf
Pengertian Pendidikan Karakter. Jurnal Online. dalam,http://eprints.uny.ac.id/8026/3/bab%202%20-%2007404244050.pdf
http://katresna72.wordpress.com, (diakses tanggal 10 Mei 2014)

1 komentar:

  1. makalah nya sangat menarik,. pendidikan karakter memang sangat penting untuk diterapkan di sekolah, terutama pada siswa bandel,
    kami juga menyediakan aplikasi absensi agar guru dan orang tua bisa memantau agar siswa tidk bolos, yu kunjungi website kami di ABSENSI SISWA

    BalasHapus