BELAJAR
KEPRAMUKAAN SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KARAKTER
I. PENDAHULUAN
Sebuah bangsa yang kuat
adalah bangsa yang berkarakter. Itulah serangkaian kalimat yang memotivasi atau
mungkin menjadi penghargaan bagi suatu bangsa atau negara. Dapat menjadi
motivasi ketika suatu bangsa/ negara dengan sadar merasa dan mengakui bahwa bangsanya
belum dapat mencapai tujuan untuk membentuk bangsa/ negara yang berkarakter.
Namun, akan dapat menjadi sebuah penghargaan ketika suatu bangsa/ negara telah
berhasil membentuk pertahanan bangsa dan negaranya dengan karakter atau
menjadikan bangsa dan negara yang berkarakter. Perlunya membangun bangsa yang
berkarakter adalah demi keutuhan dan pertahanan bangsa dan negara itu sendiri.
Mengetahui hal tersebut, Kemendikbud (Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan) tahun 2010 mengeluarkan kebijakan mengenai
pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai karakter. Kebijakan yang dikeluarkan
oleh Kemendikbud ini dilengkapi pula
dengan pedoman pelaksanaan pendidikan dengan pengembangan nilai-nilai karakter
dan budaya bangsa. Dimana dari pedoman tersebut, para calon tenaga pendidik
maupun yang telah menjadi tenaga pendidik dapat melaksanakan pendidikan
karakter dengan tepat. Keberhasilan dari penerapan nilai-nilai karakter ini
perlu adanya kesediaan seluruh komponen pendidikan untuk bersama-sama belajar
dan menumbuhkan nilai karakter dalam diri masing-masing. Pendidikan karakter
akan tumbuh dan berkembang dimulai dari diri sendiri, kemudian dengan interaksi
pada lingkungan masyarakat akan menularkan dan mengembangkan setiap nilai
karakter pada individu lain. Hal tersebut diharapkan terjadi secara terus
menerus dan berkesinambungan serta mengalami perkembangan yang bersifat
progresif. Sehingga bangsa akan semakin kuat dengan bangunan nilai-nilai
karakter di dalamnya.
Dalam melaksanakan
pendidikan karakter pada setiap lembaga pendidikan, tentu perlu adanya kriteria
tertentu untuk dapat menjadi lembaga pendidikan yang berdaya tinggi dalam
membentuk peserta didik yang berkarakter dan berbudaya bangsa. Dalam menentukan
tenaga pendidik yang ahli dan berkarakter, seleksi dan penyaringan ketat sangat
perlu dalam proses penerimaan bagi para pendidik agar senantiasa dapat menyampaikan
dan memberi teladan yang baik bagi peserta didik mengenai nilai-nilai karakter.
Dari hal tersebut dapat diartikan bahwa pembelajaran nilai karakter dalam
lembaga atau satuan pendidikan tidak hanya berlaku untuk peserta didik
melainkan bagi seluruh komponen pendukung pembelajaran seperti guru, kepala
sekolah, administrasi, karyawan, dsb. Pada lingkup satuan pendidikan, proses
pengenalan, pelaksanaan, dan pembudayaan nilai-nilai karakter dapat
diintegrasikan dengan beberapa mata pelajaran yang termasuk dalam kurikulum,
metode dan model pembelajaran. Dengan hal itu, guru (tenaga pendidik) harus
memiliki kompetensi dalam kurikulum, metode dan model pembelajaran yang
berbasis pada karakter. Sekolah dalam rangka membangun nilai-nilai karakter
harus merencanakan program-program yang di dalamnya terdapat unsur-unsur
karakter. Dalam pengembangan nilai karakter dapat disampaikan melalui
pembelajaran inti maupun ekstrakurikuler. Pengembangan karakter dengan
ekstrakurikuler dapat dengan memberi waktu khusus bagi peserta didik. Dimana
waktu khusus ini diisi dengan kegiatan yang bernilai karakter. Salah satu
contoh yang dapat ditampilkan mengenai ekstrakurikuler karakter yakni Pramuka.
Kegiatan kepramukaan ini dinilai efektif dalam penyampaian nilai-nilai
karakter. Bahkan, kegiatan ekstrakurikuler pramuka ini dapat dikatakan sebagai
kegiatan ekstrakurikuler yang tidak menjenuhkan bagi peserta didik. Sebab,
kegiatan ini dilaksanakan penuh kegembiraan. Dengan demikian, sebagai wujud
apresiasi dan rasa ingin tahu tentang keefektifan dari kegiatan pramuka dalam
pembelajaran pendidikan nilai karakter, penulis melalui makalah ini akan
meguraikan mengenai Pramuka atau Kepramukaan sebagai media pendidikan karakter.
Pada pembahasan yang selanjutnya akan diuraikan dan dipaparkan secara lebih
lanjut mengenai pengertian pendidikan karakter, pramuka; kepramukaan, tujuan,
nilai-nilai karakter yang muncul, peran guru dan hasil dari kegiatan pramuka
tersebut dalam rangka pembudayaan nilai-nilai karakter bangsa.
II. PEMBAHASAN
- Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan Karakter
merupakan pendidikan yang didasarkan pada pembelajaran yang mengandung
unsur-unsur nilai karakter di dalamnya. Pembelajaran yang tidak hanya mendidik,
mengajar, mempelajari, mencari ilmu untuk sebuah point/nilai. Melainkan
pembelajaran yang nantinya akan membantu dalam mengubah diri pribadi seorang
individu (peserta didik). Dimana pembelajaran tersebut sangat mengutamakan
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini mengisyaratkan bahwa bukan
hanya nilai/point/ranking saja yang ingin dicapai melainkan perubahan sikap dan
tingkah laku dari individu (peserta didik) itu sendiri. Aspek kognitif akan
membantu peserta didik secara teoritis yaitu pengetahuan dalam bentuk yang
cenderung tekstual. Sedangkan afektif, adalah aspek yang ingin dicapai dengan
mengikutsertakan nilai, norma, moral yang baik. Dimana pembelajaran dari nilai,
norma, dan moral tersebut dapat membantu individu (peserta didik) untuk
mengenal, menumbuhkan, dan melaksanakan nilai-nilai karakter dengan konsisten
serta membudaya. Untuk aspek psikomotorik, dapat dikaitkan dengan gerak aktif
individu (peserta didik) dalam merespon setiap kegiatan. Hal ini akan dapat
menunjukkan cepat lambatnya respon individu terhadap sesuatu. Dapat dimisalkan
seperti pelajaran olahraga dan kesenian, dimana pada saat olahraga saraf
motorik individu akan ikut terangsang dan bergerak aktif sesuai tingkatnya
masing-masing. Kemudian untuk kesenian, dapat dikaitkan dengan tingkat daya
kreatif seseorang dalam berseni.
Dapat diuraikan bahwa Pendidikan itu sendiri menurut Driyarkara dalam jurnal yang ditulis Ali
Muhtadi (2010: 32), menyatakan bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan usaha
atau bentuk upaya untuk memanusiakan manusia. Hal ini dapat diartikan bahwa
pendidikan tidak hanya sekedar membantu dalam mencerdaskan siswa secara
intelek, melainkan membantu peserta didik menemukan kepribadiannya secara
keseluruhan dan utuh dimana perkembangan kepribadian manusia (siswa) dapat
sesuai dengan nilai moral. Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah suatu
usaha sadar dan terencana yang disusun dan dilakukan untuk mengembangkan
potensi peserta didik. Perkembangan tersebut dapat meliputi potensi
intelektual, sikap atau perilaku dan keterampilan. Karena hal itulah, maka
pendidikan merupakan aktivitas terencana yang diselenggarakan oleh masyarakat
yang didalamnya termasuk keluarga atau pendidikan informal dan non-formal,
lembaga agama, bahkan oleh bangsa dan negara melalui pendidikan formal yang
berlandaskan pada pengaturan kurikulum. Hal ini diperjelas dengan UU No 20
Tahun 2003 mengenai Pendidikan Nasional, dimana dipaparkan bahwa Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta kehidupan bangsa
yang bermoral, bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Setelah mengetahui dan
memahami mengenai pengertian pendidikan, dapat diketahui dan dijabarkan
mengenai pengertian dari karakter. Karakter
menurut Kemendiknas (2010), merupakan
watak, tabiat, akhlak, dan perilaku serta kepribadian yang terbentuk dari
internalisasi sebagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai pedoman
untuk cara pandang, berpikir, berkata, bertindak dan bersikap. Sedangkan untuk
pengertian karakter menurut ahli yakni pendapat dari Thomas Lickona (1992:22),
karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara
bermoral. Sifat alami itu dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah
laku yang baik, jujur, bertanggungjawab, menghormati orang lain dan karakter
mulia lainnya.
Dapat diambil
kesimpulan bahwa pengertian dari pendidikan karakter adalah, seperti yang
dikemukakan oleh Megawangi dalam buku Darmiyati, dimana dalam buku tersebut
dikemukakan bahwa pendidikan karakter berfungsi sebagai usaha untuk mendidik
anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari hal tersebut, mereka dapat
berkontribusi langsung dalam lingkungannya. Untuk manusia yang berkarakter
adalah individu yang menggunakan seluruh potensi diri, menakup pikiran, nurani,
dan tindakannya seoptimal mungkin untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.
Sedangkan pengertian pendidikan karakter menurut Kemendiknas (2010: 4), dimaknai sebagai pendidikan yang
mengembangkan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki
nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut
dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang
religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Pendidikan karakter juga diartikan
sebagai segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter
peserta didik (siswa). Dari hal itu, guru harus dapat menjadi teladan bagi
siswanya. Guru harus mampu memberikan contoh, bagaimana ketika berbicara,
bertindak, dan melakukan toleransi terhadap teman-temannya. Dapat dikatakan
bahwa tugas guru yang paling utama dalam pelaksanaan pendidikan karakter yakni mampu
menjadi teladan bagi siswa dalam menemukan dan membantu serta mengembangkan
watak peserta didik tersebut dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
- Definisi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Kepramukaan
Setelah pada pembahasan sebelumnya dibahas mengenai
arti dari pendidikan dan pendidikan karakter, selanjutnya akan dibahas mengenai
peran dan kolaborasi antara pendidikan karakter dengan kepramukaan dalam
menumbuhkan nilai karakter bangsa. Sebelum mengetahui pembelajaran pendidikan
karakter melalui kepramukaan, terlebih dahulu perlu dijelaskan mengenai
pengertian dari kepramukaan. Terdapat beberapa istilah yang berbeda yakni
kepramukaan, pramuka, dan gerakan pramuka. Ketiganya sama-sama dalam satu
kategori yang berbeda secara istilah namun dalam statusnya saling berkaitan
atau berhubungan. Untuk arti dari pramuka merupakan orang-orang yang ikut
menjadi anggota dalam gerakan pramuka, yang berusia 7 tahun sampai 25 tahun dan
berkedudukan sebagai peserta didik yaitu sebagai pramuka siaga, penggalang,
penegak dan pandega. Pramuka dilihat dari asal kata praja yang berasal dari bahasa sansekerta, memiliki arti yakni warga,
rakyat negara, suatu negara Moeda,
atau mereka yang berjiwa muda yang memiliki kesanggupan, kemampuan, keuletan,
di dalam berkarya. Sedangkan untuk gerakan pramuka merupakan organisasi yang
menjadi wadah bagi para pramuka yang melaksanakan kepramukaan dimana gerakan
pramuka ini sangat dikenal di Indonesia. Kemudian untuk kepramukaan itu sendiri
memiliki beberapa pengertian seperti :
a) Kepramukaan
bukan lah suatu ilmu yang harus dipelajari secara tekun, bukan pula merupakan
suatu kumpulan dari suatu naskah dan ajaran dari buku,
b) Kepramukaan
adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam atau lingkungan terbuka,
dimana tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama mengadakan
pengembaraan/ perjalanan seperti kakak-adik membina kesehatan dan kebahagiaan,
keterampilan dan kesediaan memberi pertolongan,
c) Kepramukaan
adalah proses pendidikan yang di seluruh dunia itu sama
d) Kepramukaan
adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan
keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah,
praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan
Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi
pekerti luhur,
e) Kepramukaan
adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan
dan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia
Berdasarkan
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepramukaan merupakan suatu
kegiatan yang menyenangkan dimana anggotanya adalah para pramuka yang berstatus
peserta didik (siaga, penggalang, penegak, dan pandega), mereka ikut dalam keanggotaan
pada organisasi yang mewadahi aspirasi dan kegiatan mereka. Organisasi yang
menaungi mereka tersebut bernama gerakan pramuka. Kemudian terdapat pula
beberapa sifat dan fungsi dari kepramukaan. Sifat dari kepramukaan ini
merupakan sifat yang diidentifikasikan dalam “Resolusi Konferensi Kepramukaan
Sedunia” tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark. Dimana sifat-sifat kepramukaan ini
juga akan mempengaruhi pengembangan nilai-nilai karakter. Pendidikan karakter
dengan kegiatan kepramukaan akan memiliki sifat yang hampir sama dengan
kegiatan kepramukaan itu sendiri. Sifat-sifat dari kepramukaan ini diantaranya
adalah :
1) Nasional,
kegiatan kepramukaan ini disesuaikan dengan kondisi dan kepentingan masyarakat
bangsa dan negara,
2) Internasional,
kepramukaan dimanapun negaranya harus tetap menjaga rasa persatuan,
persaudaraan, dan persahabatan sesama pramuka dan masyarakat lainnya tanpa
membedakan golongan, agama, bangsa, suku, ras, dsb.
3) Universial,
bahwa dalam kepramukaan terdapat sifat yang elastis dalam artian fleksibel
menyesuaikan dengan masyarakat
Pramuka atau
kepramukaan maupun Gerakan pramuka ini diciptakan untuk dapat memberikan tempat
bagi para pemuda mengembangkan sikap positif, kreatif, aktif, dan disiplin,
serta sifat-sifat terpuji lainnya. Berdasarkan hal tersebut mengartikan bahwa suatu
kegiatan maupun organisasi dibentuk dengan fungsi dan tujuan serta peran
tertentu begitu juga dengan kegiatan kepramukaan. Dalam kegiatan kepramukaan
ini diharapkan setiap siswa dapat mengembangkan diri sesuai dengan
perilaku-perilaku yang terpuji. Karena itulah, pendidikan karakter yang
merupakan suatu sistem maupun kegiatan yang disusun secara sadar guna mendidik
para peserta didik dalam hal watak, perilaku, sikap, dan ucapan yang sesuai
dengan nilai-nilai karakter dikembangkan dengan berkolaborasi pada kegiatan
kepramukaan akan dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif, karena adanya
kesamaan dalam nilai. Pembelajaran pendidikan karakter yang diaplikasikan
melalui kegiatan kepramukaan akan membentuk pemahaman bahwa melalui kegiatan
kepramukaan yang diintegrasikan dengan pendidikan karakter akan membentuk suatu
pendidikan terbuka dan ditujukan paling utama untuk mengembangkan perilaku
remaja, di dalamnya terdapat berbagai nilai terpuji (nilai-nilai karakter) yang
dirancang sebagai suatu unsur dan tujuan utama yang berguna untuk mengembangkan
karakter bangsa. Sehingga, dengan kegiatan kepramukaan secara rutin tersebut,
peserta didik dapat menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai karakternya.
Sebab dalam kepramukaan terdapat beberapa nilai yang sama dengan nilai-nilai
karakter. Sehingga antara keduanya dapat saling berkolaborasi dan mencapai
tujuan yang sama yakni sebuah bangsa yang kuat dan berkarakter. Dalam hal ini
dapat terlihat bahwa kepramukaan mampu menjadi media yang efekif dari berbagai
model pembelajaran nilai karakter. Berdasarkan pengertian dari pendidikan
karakter melalui kepramukaan tersebut, dapat pula dijelaskan mengenai fungsi dan
peran dari kepramukaan dalam membantu menanamkan nilai-nilai karakter, yang
diantaranya yakni :
1. Kegiatan menarik bagi anak dan
pemuda. Kegiatan menarik yang menyenangkan serta mengandung unsur pendidikan,
tentunya mempunyai aturan dan tujuan, bukan hanya sekedar bermain-main yang
tanpa tujuan dan aturan. Dengan cara yang semacam ini diharapkan peserta didik
dapat dengan mudah memahami nilai-nilai karakter dengan menyenagkan tanpa
paksaan.
2. Bagi orang dewasa kepramukaan bukan
merupakan permainan lagi melainkan pengabdian yang butuh akan pengorbanan,
kerelaan, keikhlasan. Demi untuk mengabdikan diri kepada suksesnya suatu
organisasi. Pada point kedua ini sesuai dengan perkembangannya diharapkan
individu mengalami perubahan yang progresif pada nilai-nilai karakter yang
dipelajarinya melalui kepramukaan.
3. Alat bagi masyarakat dan Organisasi Kepramukaan
merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai tujuan. Karena itulah,
kepramukaan memiliki peran penting bagi tercapainya tujuan untuk membentuk bangsa
yang berkarakter. ( http://www.kanam21.co.cc)
Dalam ketiga fungsi
kepramukaan diatas dapat disimpulkan bahwa dari ketiganya terdapat ruang pada
kegiatan kepramukaan untuk menanamkan dan mengajarkan nilai karakter. Untuk
peranan dari kepramukaan terhadap pengembangan nilai-nilai karakter dapat
dijelaskan sebagai berikut : (a) memberi bekal bagi para peserta didik atau
kaum muda dalam mengikuti pembelajaran yang edukatif, aktif, dan kreatif. (b)
mengajarkan pada kaum muda untuk dapat belajar dengan tiga aspek yakni
kognitif, afektif, dan psikomotorik (c) sebagai media yang baik untuk
pengembangan nilai karakter dan budaya bangsa (d) mengembangkan nilai karakter
guna mewujudkan nilai-nilai luhur pancasila (e) menanamkan nilai-nilai
kewajiban dalm berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dan sesama manusia (f)
membentuk insan-insan yang bertaqwa dan sesuai dengan Dasa Dharma Pramuka.
Dari uraian tersebut
dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter dengan basis kepramukaan merupakan
suatu kegiatan belajar yang menyenangkan, terbuka, santai, bersahabat, disiplin
dan bertahap untuk menumbuhkan serta mengembangkan nilai-nilai karakter. Dengan
adanya hubungan antara pendidikan karakter dan kepramukaan diharapkan muncul
keefektifan bagi perkembangan nilai karakter dan budaya bangsa. Sehingga akan
melahirkan generasi muda bangsa yang berkarakter dan berkebudayaan Bangsa
Indonesia.
- Pembelajaran Karakter Melalui Kepramukaan
Berdasarkan
dari pengertian dan pemahaman mengenai pendidikan karakter melalui kegiatan
kepramukaan. Serta berbagai fungsi, peran, dan sifatnya. Diketahui beberapa
nilai yang mendasari adanya hubungan yang berkesinambungan antara pendidikan
karakter dengan kegiatan kepramukaan sebagai jalan untuk membentuk bangsa yang
berkarakter. Nilai-nilai yang ada dalam kepramukaan ini merupakan nilai-nilai
karakter yang wajib untuk diajarkan dan ditanamkan pada diri individu atau
masyarakat. Sehingga dalam kegiatan kepramukaan tidak perlu dibentuk sebuah
kondisi pembelajaran pendidikan karakter untuk beberapa waktu tertentu. Karena,
setiap kegiatan kepramukaan di dalamnya telah terdapat berbagai nilai karakter.
Meski secara fisik kepramukaan memiliki nilai-nilai pengabdiannya sendiri, akan
tetap dalam pengertian yang luas, nilai-nilai dalam kepramukaan tersebut
mengandung nilai karakter. Nilai-nilai dalam kepramukaan merupakan nilai
positif yang diajarkan kepada para anggota kepramukaan dan berguna menumbuhkan
perasaan serta perilaku terpuji sesuai dengan moral, norma, dan nilai yang ada.
Nilai-nilai kepramukaan yang tersirat ini digunakan untuk menembangkan
nilai-nilai karakter para anggotanya. Nilai-nilai tersebut termaktub dalam Tri
Satya dan Dasa Dharma Pramuka yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Taqwa
Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Nilai
kepramukaan ini sesuai dengan nilai karakter religius. Nilai ini merupakan
wujud ketaatan terhadap Sang Pencipta.
2) Cinta
Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia
Nilai
ini sesuai dengan nilai karakter yakni nilai toleransi dan melestarikan
lingkungan, menjaga kelestarian lingkungan.
3) Patriot
Sopan dan Ksatria
Ini
merupakan nilai yang sesuai dengan nilai karakter cinta tanah air, rela
berkorban untuk tanah air dan rasa nasionalisme.
4) Patuh
dan Suka Bermusyawarah
Hal
ini juga menunjukkan nilai karakter yang berhubungan dengan kehidupan
kemasyarakatan.
5) Rela
Menolong dan Tabah
Merupakan
nilai karakter yang berhubungan dengan solidaritas antarindividu dalam
kehidupan bermasyarakat.
6) Rajin, Terampil, dan Gembira
Nilai
ini juga termasuk dalam nilai-nilai karakter untuk mengembangkan sikap rajin,
trampil, dan menjadi seorang yang berkepribadian gembira.
7) Hemat, Cermat, dan Bersahaja
Menunjukkan
nilai karakter sebagai manusia yang pandai nan bersahaja dalam lingkungannya.
8) Disiplin, Berani, dan Setia
Nilai
disiplin, berani, dan setia secara nyata telah disebutkan pula dalam
nilai-nilai pembangun karakter bangsa.
9) Bertanggungjawab dan Dapat Dipercaya
Nilai
tanggungjawab dan dapat dipercaya merupakan nilai yang termasuk dalam
unsur-unsur pembentuk nilai karakter.
10) Suci dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan
Nilai-nilai
kepramukaan yang terakhir ini mengajarkan setiap individu untuk menjadi manusia
yang selalu berpikir, berkata, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang positif.
Dengan sepuluh nilai
dalam kegiatan kepramukaan tersebut yang dikolaborasikan dengan pendidikan yang
berkarakter akan menghasilkan suatu pembelajaran nilai-nilai yang akan membantu
peserta didik mencapai manusia yang bermoral, berbudi luhur, dan bermartabat.
Sehingga dapat menjadi manusia (generasi bangsa) yang mampu menjunjung tinggi
kebangsaan dan kenegarannya, membanggakan bangsa serta negara. Dalam kegiatan
kepramukaan semua sarat dengan nilai-nilai karakter. Kegiatan kepramukaan
tersebut seperti berkemah, arung jeram, komando, upacara, mendaki gunung,
mencari jejak, dsb. Melalui berbagai kegiatan tersebut akan dapat menumbuhkan
nilai-nilai karakter keberanian, kepemimpinan, tanggungjawab, cinta tanah air,
solidaritas, disiplin, dsb. Berdasarkan hal tersebut, menggambarkan dan
menjelaskan bahwa setiap kegiatan kepramukaan memiliki tujuan dan nilai yang
sesuai dengan nilai karakter.
Kegiatan kepramukaan
ini sangat baik dalam membentuk karakter para anggotanya. Kepramukaan
mengarahkan peserta didik (anggota) untuk memiliki sikap disiplin, aktif,
kreatif, dengan melalui kegiatan yang menarik, menantang, edukatif, dan
rekreatif. Sehingga dalam kepramukaan dibentuk situasi yang nyaman untuk dapat
belajar kepramukaan dengan baik. Dalam pembelajaran nilai-nilai karakter
melalui kegiatan pramuka tersebut diperoleh beberapa nilai karakter yang secara
tidak langsung telah dipelajari oleh seluruh anggota pramuka (peserta didik)
yakni karakter Religius, Jujur, Mandiri,
Kerja keras, Disiplin, Rasa ingin tahu, Kreatif, Tanggung jawab, Komunikatif,
Peduli sosial, Peduli lingkungan, Cinta damai, Toleransi, Demokratis,
Menghargai Prestasi dan Gemar Membaca. Karena karakter-karakter tersebut terkandung
pada seluruh kegiatan yang ada dalam pramuka.
Dalam pelaksanaan
pembelajaran nilai karakter melalui kepramukaan ini tidak jarang ditemui
beberapa kendala. Hal tersebut dapat berupa ketersediaan tempat untuk
melaksanakan kegiatan secara optimal, kurangnya pembina dalam kegiatan
kepramukaan, pengaruh kondisi cuaca yang terkadang menjadi hambatan, dan tidak
semua anggota pramuka memiliki minat yang sama setiap harinya. Meski begitu,
kegiatan kepramukaan ini telah banyak menunjukkan keefektifannya dalam menumbuhkan
dan mengembangkan nilai-nilai karakter pada setiap anggota pramuka (peserta
didik). Namun, bukan berarti kegiatan sekolah lainnya tidak membantu
pembentukan karakter secara efektif. Keseluruhan kegiatan pembelajaran dalam
lingkup sekolah berusaha untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter pada diri
peserta didik. Sebab jika hanya mengandalkan kegiatan kepramukaan, maka
dikhawatirkan pengembangan nilai-nilai karakter tidak dapat menjadi budaya dan
hanya dalam kegiatan kepramukaan saja. Sehingga perlu adanya kegiatan-kegiatan
penunjang lain di sekolah guna meningkatkan dan membiasakan, serta membudayakan
nilai-nilai karakter pada diri peserta didik. Dalam kegiatan pramuka untuk
pemberian hukuman atau sanksi bagi para anggota yang melakukan kesalahan dan
melanggar aturan, maka bentuk sanksi atau hukuman yang diberikan harus
mendidik. Artinya, dalam memberi hukuman pada para anggota pramuka (peserta
didik), tidak perlu dengan kekerasan. Hukuman yang diberikan cukup dengan
hal-hal yang dapat membangun dan menumbuhkan karakter peserta didik. Misalkan,
dengan memberi hukuman menyanyikan lagu nasional, membantu dalam serangkaian
upacara pada saat kegiatan pramuka, dsb. Sehingga dalam kegiatan kepramukaan
baik itu kegiatan inti maupun pada saat memberikan hukuman pun semua harus
berdasarkan nilai-nilai karakter yang ada. Maka peserta didik akan senantiasa
mengetahui, memahami, menyadari bahwasanya setiap kegiatan yang ia lakukan
harus berlandaskan pada nilai-nilai karakter.
- Peranan Guru Dalam Pembelajaran Karakter Melalui Kepramukaan
Setelah diuraikan pada
pembahasan sebelumnya mengenai pembelajaran nilai-nilai karakter pada kegiatan
pramuka (kepramukaan), tentu tidak hanya para pembimbing saja yang berperan
dalam membantu peserta didik yang merupakan anggota pramuka dalam pembelajaran
karakter. Pada pembelajaran karakter dengan kepramukaan ini, guru diharapakan
ikut andil dalam kegiatan tersebut. Dalam lingkungan sekolah guru tidak akan
pernah kehilangan perannya. Dalam setiap kegiatan yang merupakan kegiatan akademi
sekolah guru yang memiliki wewenang wajib turut serta dalam berbagai kegiatan
yang diselenggarakan sesuai program sekolah. Sehingga dalam kaitannya dengan
kepramukaan, setiap guru wajib untuk mengikuti. Hal ini menunjukkan bahwa
kegiatan pramuka tidak lantas diserahkan begitu saja pada para pembimbing
kepramukaan melainkan harus dengan pengawasan dari guru.
Karena peran guru yang
begitu banyak di sekolah, menunjukkan bahwa banyak pula tanggungjawab yang
diterima oleh guru. Dalam kepramukaan dapat dimisalkan dengan ketika
kepramukaan menyelenggarakan kegiatan berkemah, maka guru harus mengikuti
kegiatan tersebut. Bahkan pada setiap kegiatan dalam rangkaian acara
perkemahan, guru juga harus mengikuti dan mengawasi peserta didiknya. Guru juga
memiliki peran dan tugas dalam kegiatan upacara saat perkemahan. Salah seorang
guru akan bertugas sebagai pemimpin upacara. Tidak sampai pada kegiatan
tersebut, pembelajaran yang mengedepankan pendidikan karakter menuntut tenaga
pendidik (guru) untuk memiliki dan menumbuhkan nilai-nilai karakter di dalam
dirinya. Sehingga, seorang guru akan dapat menjadi teladan bagi peserta
didiknya. Dari hal itulah, guru juga akan lebih mampu mengajarkan nilai-nilai
karakter dengan baik kepada peserta didik. Dengan kegiatan kepramukaan ini
menjadi salah satu media yang dapat digunakan oleh tenaga pengajar dalam
memberikan teladan serta mengajarkan peserta didik dalam menumbuhkan dan
mengembangkan nilai-nilai karakter beserta aplikasinya secara nyata. Sehingga,
akan dapat tercapai pembentukan peserta didik yang berkarakter dan mampu
mengaplikasikannya serta membudayakan nilai-nilai karakter dalam kehidupan
sehari-hari.
PENUTUP
DAFTAR
PUSTAKA
Darmiyati
Zuchdi dkk. (2009). Pendidikan Karakter Grand Design dan Nilai-nilai Target.
Yogyakarta: UNY Press.
Kemendiknas. 2010. Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta : Badan Penelitian
dan Pengembangan Pusat Kurikulum
Musfiroh,
T. 2008. Pengembangan Karakter Anak
Melalui Pendidikan Karakter dalam Character Building , (Editor :
Arismantoro). Yogyakarta : Tiara Wacana
Muwafik
Saleh, Akh., 2012. Membangun Karakter
dengan Hati Nurani; Pendidikan Karakter
untuk Generasi Bangsa. Jakarta: Erlangga
Sudrajad, Djoko. “Hubungan nilai-nilai kepramukaan, karakter
disiplin dan kerja keras terhadap prestasi belajar siswa”. Jurnal Online dalam http://eprints.uny.ac.id/10059/1/jurnal%20penelitian.pdf
Zein, Bunga. “Pembentukan karakter bangsa (proses
dan nilai-nilai karakter bangsa) Dalam kegiatan pramuka”. Jurnal Online dalam http://skripsippknunj.com/wp-content/uploads/2013/02/jurnal-Bunga-Zen.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar