Selasa, 24 Juni 2014

pendidikan karakter dengan kepramukaan



BELAJAR KEPRAMUKAAN SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KARAKTER

I.     PENDAHULUAN
Sebuah bangsa yang kuat adalah bangsa yang berkarakter. Itulah serangkaian kalimat yang memotivasi atau mungkin menjadi penghargaan bagi suatu bangsa atau negara. Dapat menjadi motivasi ketika suatu bangsa/ negara dengan sadar merasa dan mengakui bahwa bangsanya belum dapat mencapai tujuan untuk membentuk bangsa/ negara yang berkarakter. Namun, akan dapat menjadi sebuah penghargaan ketika suatu bangsa/ negara telah berhasil membentuk pertahanan bangsa dan negaranya dengan karakter atau menjadikan bangsa dan negara yang berkarakter. Perlunya membangun bangsa yang berkarakter adalah demi keutuhan dan pertahanan bangsa dan negara itu sendiri. Mengetahui hal tersebut, Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) tahun 2010 mengeluarkan kebijakan mengenai pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai karakter. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud ini dilengkapi pula dengan pedoman pelaksanaan pendidikan dengan pengembangan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa. Dimana dari pedoman tersebut, para calon tenaga pendidik maupun yang telah menjadi tenaga pendidik dapat melaksanakan pendidikan karakter dengan tepat. Keberhasilan dari penerapan nilai-nilai karakter ini perlu adanya kesediaan seluruh komponen pendidikan untuk bersama-sama belajar dan menumbuhkan nilai karakter dalam diri masing-masing. Pendidikan karakter akan tumbuh dan berkembang dimulai dari diri sendiri, kemudian dengan interaksi pada lingkungan masyarakat akan menularkan dan mengembangkan setiap nilai karakter pada individu lain. Hal tersebut diharapkan terjadi secara terus menerus dan berkesinambungan serta mengalami perkembangan yang bersifat progresif. Sehingga bangsa akan semakin kuat dengan bangunan nilai-nilai karakter di dalamnya.
Dalam melaksanakan pendidikan karakter pada setiap lembaga pendidikan, tentu perlu adanya kriteria tertentu untuk dapat menjadi lembaga pendidikan yang berdaya tinggi dalam membentuk peserta didik yang berkarakter dan berbudaya bangsa. Dalam menentukan tenaga pendidik yang ahli dan berkarakter, seleksi dan penyaringan ketat sangat perlu dalam proses penerimaan bagi para pendidik agar senantiasa dapat menyampaikan dan memberi teladan yang baik bagi peserta didik mengenai nilai-nilai karakter. Dari hal tersebut dapat diartikan bahwa pembelajaran nilai karakter dalam lembaga atau satuan pendidikan tidak hanya berlaku untuk peserta didik melainkan bagi seluruh komponen pendukung pembelajaran seperti guru, kepala sekolah, administrasi, karyawan, dsb. Pada lingkup satuan pendidikan, proses pengenalan, pelaksanaan, dan pembudayaan nilai-nilai karakter dapat diintegrasikan dengan beberapa mata pelajaran yang termasuk dalam kurikulum, metode dan model pembelajaran. Dengan hal itu, guru (tenaga pendidik) harus memiliki kompetensi dalam kurikulum, metode dan model pembelajaran yang berbasis pada karakter. Sekolah dalam rangka membangun nilai-nilai karakter harus merencanakan program-program yang di dalamnya terdapat unsur-unsur karakter. Dalam pengembangan nilai karakter dapat disampaikan melalui pembelajaran inti maupun ekstrakurikuler. Pengembangan karakter dengan ekstrakurikuler dapat dengan memberi waktu khusus bagi peserta didik. Dimana waktu khusus ini diisi dengan kegiatan yang bernilai karakter. Salah satu contoh yang dapat ditampilkan mengenai ekstrakurikuler karakter yakni Pramuka. Kegiatan kepramukaan ini dinilai efektif dalam penyampaian nilai-nilai karakter. Bahkan, kegiatan ekstrakurikuler pramuka ini dapat dikatakan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang tidak menjenuhkan bagi peserta didik. Sebab, kegiatan ini dilaksanakan penuh kegembiraan. Dengan demikian, sebagai wujud apresiasi dan rasa ingin tahu tentang keefektifan dari kegiatan pramuka dalam pembelajaran pendidikan nilai karakter, penulis melalui makalah ini akan meguraikan mengenai Pramuka atau Kepramukaan sebagai media pendidikan karakter. Pada pembahasan yang selanjutnya akan diuraikan dan dipaparkan secara lebih lanjut mengenai pengertian pendidikan karakter, pramuka; kepramukaan, tujuan, nilai-nilai karakter yang muncul, peran guru dan hasil dari kegiatan pramuka tersebut dalam rangka pembudayaan nilai-nilai karakter bangsa.

II.      PEMBAHASAN

  1. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter merupakan pendidikan yang didasarkan pada pembelajaran yang mengandung unsur-unsur nilai karakter di dalamnya. Pembelajaran yang tidak hanya mendidik, mengajar, mempelajari, mencari ilmu untuk sebuah point/nilai. Melainkan pembelajaran yang nantinya akan membantu dalam mengubah diri pribadi seorang individu (peserta didik). Dimana pembelajaran tersebut sangat mengutamakan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini mengisyaratkan bahwa bukan hanya nilai/point/ranking saja yang ingin dicapai melainkan perubahan sikap dan tingkah laku dari individu (peserta didik) itu sendiri. Aspek kognitif akan membantu peserta didik secara teoritis yaitu pengetahuan dalam bentuk yang cenderung tekstual. Sedangkan afektif, adalah aspek yang ingin dicapai dengan mengikutsertakan nilai, norma, moral yang baik. Dimana pembelajaran dari nilai, norma, dan moral tersebut dapat membantu individu (peserta didik) untuk mengenal, menumbuhkan, dan melaksanakan nilai-nilai karakter dengan konsisten serta membudaya. Untuk aspek psikomotorik, dapat dikaitkan dengan gerak aktif individu (peserta didik) dalam merespon setiap kegiatan. Hal ini akan dapat menunjukkan cepat lambatnya respon individu terhadap sesuatu. Dapat dimisalkan seperti pelajaran olahraga dan kesenian, dimana pada saat olahraga saraf motorik individu akan ikut terangsang dan bergerak aktif sesuai tingkatnya masing-masing. Kemudian untuk kesenian, dapat dikaitkan dengan tingkat daya kreatif seseorang dalam berseni.
Dapat diuraikan bahwa Pendidikan itu sendiri menurut  Driyarkara dalam jurnal yang ditulis Ali Muhtadi (2010: 32), menyatakan bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan usaha atau bentuk upaya untuk memanusiakan manusia. Hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan tidak hanya sekedar membantu dalam mencerdaskan siswa secara intelek, melainkan membantu peserta didik menemukan kepribadiannya secara keseluruhan dan utuh dimana perkembangan kepribadian manusia (siswa) dapat sesuai dengan nilai moral. Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana yang disusun dan dilakukan untuk mengembangkan potensi peserta didik. Perkembangan tersebut dapat meliputi potensi intelektual, sikap atau perilaku dan keterampilan. Karena hal itulah, maka pendidikan merupakan aktivitas terencana yang diselenggarakan oleh masyarakat yang didalamnya termasuk keluarga atau pendidikan informal dan non-formal, lembaga agama, bahkan oleh bangsa dan negara melalui pendidikan formal yang berlandaskan pada pengaturan kurikulum. Hal ini diperjelas dengan UU No 20 Tahun 2003 mengenai Pendidikan Nasional, dimana dipaparkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta kehidupan bangsa yang bermoral, bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Setelah mengetahui dan memahami mengenai pengertian pendidikan, dapat diketahui dan dijabarkan mengenai pengertian dari karakter. Karakter menurut Kemendiknas  (2010), merupakan watak, tabiat, akhlak, dan perilaku serta kepribadian yang terbentuk dari internalisasi sebagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai pedoman untuk cara pandang, berpikir, berkata, bertindak dan bersikap. Sedangkan untuk pengertian karakter menurut ahli yakni pendapat dari Thomas Lickona (1992:22), karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral. Sifat alami itu dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggungjawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya.
Dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian dari pendidikan karakter adalah, seperti yang dikemukakan oleh Megawangi dalam buku Darmiyati, dimana dalam buku tersebut dikemukakan bahwa pendidikan karakter berfungsi sebagai usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari hal tersebut, mereka dapat berkontribusi langsung dalam lingkungannya. Untuk manusia yang berkarakter adalah individu yang menggunakan seluruh potensi diri, menakup pikiran, nurani, dan tindakannya seoptimal mungkin untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Sedangkan pengertian pendidikan karakter menurut Kemendiknas (2010: 4), dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Pendidikan karakter juga diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik (siswa). Dari hal itu, guru harus dapat menjadi teladan bagi siswanya. Guru harus mampu memberikan contoh, bagaimana ketika berbicara, bertindak, dan melakukan toleransi terhadap teman-temannya. Dapat dikatakan bahwa tugas guru yang paling utama dalam pelaksanaan pendidikan karakter yakni mampu menjadi teladan bagi siswa dalam menemukan dan membantu serta mengembangkan watak peserta didik tersebut dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

  1. Definisi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Kepramukaan
Setelah pada pembahasan sebelumnya dibahas mengenai arti dari pendidikan dan pendidikan karakter, selanjutnya akan dibahas mengenai peran dan kolaborasi antara pendidikan karakter dengan kepramukaan dalam menumbuhkan nilai karakter bangsa. Sebelum mengetahui pembelajaran pendidikan karakter melalui kepramukaan, terlebih dahulu perlu dijelaskan mengenai pengertian dari kepramukaan. Terdapat beberapa istilah yang berbeda yakni kepramukaan, pramuka, dan gerakan pramuka. Ketiganya sama-sama dalam satu kategori yang berbeda secara istilah namun dalam statusnya saling berkaitan atau berhubungan. Untuk arti dari pramuka merupakan orang-orang yang ikut menjadi anggota dalam gerakan pramuka, yang berusia 7 tahun sampai 25 tahun dan berkedudukan sebagai peserta didik yaitu sebagai pramuka siaga, penggalang, penegak dan pandega. Pramuka dilihat dari asal kata praja yang berasal dari bahasa sansekerta, memiliki arti yakni warga, rakyat negara, suatu negara Moeda, atau mereka yang berjiwa muda yang memiliki kesanggupan, kemampuan, keuletan, di dalam berkarya. Sedangkan untuk gerakan pramuka merupakan organisasi yang menjadi wadah bagi para pramuka yang melaksanakan kepramukaan dimana gerakan pramuka ini sangat dikenal di Indonesia. Kemudian untuk kepramukaan itu sendiri memiliki beberapa pengertian seperti :

a)      Kepramukaan bukan lah suatu ilmu yang harus dipelajari secara tekun, bukan pula merupakan suatu kumpulan dari suatu naskah dan ajaran dari buku,
b)      Kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam atau lingkungan terbuka, dimana tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama mengadakan pengembaraan/ perjalanan seperti kakak-adik membina kesehatan dan kebahagiaan, keterampilan dan kesediaan memberi pertolongan,
c)      Kepramukaan adalah proses pendidikan yang di seluruh dunia itu sama
d)     Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur,
e)      Kepramukaan adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepramukaan merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dimana anggotanya adalah para pramuka yang berstatus peserta didik (siaga, penggalang, penegak, dan pandega), mereka ikut dalam keanggotaan pada organisasi yang mewadahi aspirasi dan kegiatan mereka. Organisasi yang menaungi mereka tersebut bernama gerakan pramuka. Kemudian terdapat pula beberapa sifat dan fungsi dari kepramukaan. Sifat dari kepramukaan ini merupakan sifat yang diidentifikasikan dalam “Resolusi Konferensi Kepramukaan Sedunia” tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark. Dimana sifat-sifat kepramukaan ini juga akan mempengaruhi pengembangan nilai-nilai karakter. Pendidikan karakter dengan kegiatan kepramukaan akan memiliki sifat yang hampir sama dengan kegiatan kepramukaan itu sendiri. Sifat-sifat dari kepramukaan ini diantaranya adalah :
1)      Nasional, kegiatan kepramukaan ini disesuaikan dengan kondisi dan kepentingan masyarakat bangsa dan negara,
2)      Internasional, kepramukaan dimanapun negaranya harus tetap menjaga rasa persatuan, persaudaraan, dan persahabatan sesama pramuka dan masyarakat lainnya tanpa membedakan golongan, agama, bangsa, suku, ras, dsb.
3)      Universial, bahwa dalam kepramukaan terdapat sifat yang elastis dalam artian fleksibel menyesuaikan dengan masyarakat

Pramuka atau kepramukaan maupun Gerakan pramuka ini diciptakan untuk dapat memberikan tempat bagi para pemuda mengembangkan sikap positif, kreatif, aktif, dan disiplin, serta sifat-sifat terpuji lainnya. Berdasarkan hal tersebut mengartikan bahwa suatu kegiatan maupun organisasi dibentuk dengan fungsi dan tujuan serta peran tertentu begitu juga dengan kegiatan kepramukaan. Dalam kegiatan kepramukaan ini diharapkan setiap siswa dapat mengembangkan diri sesuai dengan perilaku-perilaku yang terpuji. Karena itulah, pendidikan karakter yang merupakan suatu sistem maupun kegiatan yang disusun secara sadar guna mendidik para peserta didik dalam hal watak, perilaku, sikap, dan ucapan yang sesuai dengan nilai-nilai karakter dikembangkan dengan berkolaborasi pada kegiatan kepramukaan akan dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif, karena adanya kesamaan dalam nilai. Pembelajaran pendidikan karakter yang diaplikasikan melalui kegiatan kepramukaan akan membentuk pemahaman bahwa melalui kegiatan kepramukaan yang diintegrasikan dengan pendidikan karakter akan membentuk suatu pendidikan terbuka dan ditujukan paling utama untuk mengembangkan perilaku remaja, di dalamnya terdapat berbagai nilai terpuji (nilai-nilai karakter) yang dirancang sebagai suatu unsur dan tujuan utama yang berguna untuk mengembangkan karakter bangsa. Sehingga, dengan kegiatan kepramukaan secara rutin tersebut, peserta didik dapat menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai karakternya. Sebab dalam kepramukaan terdapat beberapa nilai yang sama dengan nilai-nilai karakter. Sehingga antara keduanya dapat saling berkolaborasi dan mencapai tujuan yang sama yakni sebuah bangsa yang kuat dan berkarakter. Dalam hal ini dapat terlihat bahwa kepramukaan mampu menjadi media yang efekif dari berbagai model pembelajaran nilai karakter. Berdasarkan pengertian dari pendidikan karakter melalui kepramukaan tersebut, dapat pula dijelaskan mengenai fungsi dan peran dari kepramukaan dalam membantu menanamkan nilai-nilai karakter, yang diantaranya yakni :
1. Kegiatan menarik bagi anak dan pemuda. Kegiatan menarik yang menyenangkan serta mengandung unsur pendidikan, tentunya mempunyai aturan dan tujuan, bukan hanya sekedar bermain-main yang tanpa tujuan dan aturan. Dengan cara yang semacam ini diharapkan peserta didik dapat dengan mudah memahami nilai-nilai karakter dengan menyenagkan tanpa paksaan.
2. Bagi orang dewasa kepramukaan bukan merupakan permainan lagi melainkan pengabdian yang butuh akan pengorbanan, kerelaan, keikhlasan. Demi untuk mengabdikan diri kepada suksesnya suatu organisasi. Pada point kedua ini sesuai dengan perkembangannya diharapkan individu mengalami perubahan yang progresif pada nilai-nilai karakter yang dipelajarinya melalui kepramukaan.
3. Alat bagi masyarakat dan Organisasi Kepramukaan merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai tujuan. Karena itulah, kepramukaan memiliki peran penting bagi tercapainya tujuan untuk membentuk bangsa yang berkarakter. ( http://www.kanam21.co.cc)

Dalam ketiga fungsi kepramukaan diatas dapat disimpulkan bahwa dari ketiganya terdapat ruang pada kegiatan kepramukaan untuk menanamkan dan mengajarkan nilai karakter. Untuk peranan dari kepramukaan terhadap pengembangan nilai-nilai karakter dapat dijelaskan sebagai berikut : (a) memberi bekal bagi para peserta didik atau kaum muda dalam mengikuti pembelajaran yang edukatif, aktif, dan kreatif. (b) mengajarkan pada kaum muda untuk dapat belajar dengan tiga aspek yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik (c) sebagai media yang baik untuk pengembangan nilai karakter dan budaya bangsa (d) mengembangkan nilai karakter guna mewujudkan nilai-nilai luhur pancasila (e) menanamkan nilai-nilai kewajiban dalm berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dan sesama manusia (f) membentuk insan-insan yang bertaqwa dan sesuai dengan Dasa Dharma Pramuka.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter dengan basis kepramukaan merupakan suatu kegiatan belajar yang menyenangkan, terbuka, santai, bersahabat, disiplin dan bertahap untuk menumbuhkan serta mengembangkan nilai-nilai karakter. Dengan adanya hubungan antara pendidikan karakter dan kepramukaan diharapkan muncul keefektifan bagi perkembangan nilai karakter dan budaya bangsa. Sehingga akan melahirkan generasi muda bangsa yang berkarakter dan berkebudayaan Bangsa Indonesia.

  1. Pembelajaran Karakter Melalui Kepramukaan
Berdasarkan dari pengertian dan pemahaman mengenai pendidikan karakter melalui kegiatan kepramukaan. Serta berbagai fungsi, peran, dan sifatnya. Diketahui beberapa nilai yang mendasari adanya hubungan yang berkesinambungan antara pendidikan karakter dengan kegiatan kepramukaan sebagai jalan untuk membentuk bangsa yang berkarakter. Nilai-nilai yang ada dalam kepramukaan ini merupakan nilai-nilai karakter yang wajib untuk diajarkan dan ditanamkan pada diri individu atau masyarakat. Sehingga dalam kegiatan kepramukaan tidak perlu dibentuk sebuah kondisi pembelajaran pendidikan karakter untuk beberapa waktu tertentu. Karena, setiap kegiatan kepramukaan di dalamnya telah terdapat berbagai nilai karakter. Meski secara fisik kepramukaan memiliki nilai-nilai pengabdiannya sendiri, akan tetap dalam pengertian yang luas, nilai-nilai dalam kepramukaan tersebut mengandung nilai karakter. Nilai-nilai dalam kepramukaan merupakan nilai positif yang diajarkan kepada para anggota kepramukaan dan berguna menumbuhkan perasaan serta perilaku terpuji sesuai dengan moral, norma, dan nilai yang ada. Nilai-nilai kepramukaan yang tersirat ini digunakan untuk menembangkan nilai-nilai karakter para anggotanya. Nilai-nilai tersebut termaktub dalam Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1)      Taqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Nilai kepramukaan ini sesuai dengan nilai karakter religius. Nilai ini merupakan wujud ketaatan terhadap Sang Pencipta.
2)      Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia
Nilai ini sesuai dengan nilai karakter yakni nilai toleransi dan melestarikan lingkungan, menjaga kelestarian lingkungan.
3)      Patriot Sopan dan Ksatria
Ini merupakan nilai yang sesuai dengan nilai karakter cinta tanah air, rela berkorban untuk tanah air dan rasa nasionalisme.
4)      Patuh dan Suka Bermusyawarah
Hal ini juga menunjukkan nilai karakter yang berhubungan dengan kehidupan kemasyarakatan.
5)      Rela Menolong dan Tabah
Merupakan nilai karakter yang berhubungan dengan solidaritas antarindividu dalam kehidupan bermasyarakat.
6)       Rajin, Terampil, dan Gembira
Nilai ini juga termasuk dalam nilai-nilai karakter untuk mengembangkan sikap rajin, trampil, dan menjadi seorang yang berkepribadian gembira.
7)       Hemat, Cermat, dan Bersahaja
Menunjukkan nilai karakter sebagai manusia yang pandai nan bersahaja dalam lingkungannya.
8)       Disiplin, Berani, dan Setia
Nilai disiplin, berani, dan setia secara nyata telah disebutkan pula dalam nilai-nilai pembangun karakter bangsa.
9)       Bertanggungjawab dan Dapat Dipercaya
Nilai tanggungjawab dan dapat dipercaya merupakan nilai yang termasuk dalam unsur-unsur pembentuk nilai karakter.
10)   Suci dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan
Nilai-nilai kepramukaan yang terakhir ini mengajarkan setiap individu untuk menjadi manusia yang selalu berpikir, berkata, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang positif.
Dengan sepuluh nilai dalam kegiatan kepramukaan tersebut yang dikolaborasikan dengan pendidikan yang berkarakter akan menghasilkan suatu pembelajaran nilai-nilai yang akan membantu peserta didik mencapai manusia yang bermoral, berbudi luhur, dan bermartabat. Sehingga dapat menjadi manusia (generasi bangsa) yang mampu menjunjung tinggi kebangsaan dan kenegarannya, membanggakan bangsa serta negara. Dalam kegiatan kepramukaan semua sarat dengan nilai-nilai karakter. Kegiatan kepramukaan tersebut seperti berkemah, arung jeram, komando, upacara, mendaki gunung, mencari jejak, dsb. Melalui berbagai kegiatan tersebut akan dapat menumbuhkan nilai-nilai karakter keberanian, kepemimpinan, tanggungjawab, cinta tanah air, solidaritas, disiplin, dsb. Berdasarkan hal tersebut, menggambarkan dan menjelaskan bahwa setiap kegiatan kepramukaan memiliki tujuan dan nilai yang sesuai dengan nilai karakter.
Kegiatan kepramukaan ini sangat baik dalam membentuk karakter para anggotanya. Kepramukaan mengarahkan peserta didik (anggota) untuk memiliki sikap disiplin, aktif, kreatif, dengan melalui kegiatan yang menarik, menantang, edukatif, dan rekreatif. Sehingga dalam kepramukaan dibentuk situasi yang nyaman untuk dapat belajar kepramukaan dengan baik. Dalam pembelajaran nilai-nilai karakter melalui kegiatan pramuka tersebut diperoleh beberapa nilai karakter yang secara tidak langsung telah dipelajari oleh seluruh anggota pramuka (peserta didik) yakni  karakter Religius, Jujur, Mandiri, Kerja keras, Disiplin, Rasa ingin tahu, Kreatif, Tanggung jawab, Komunikatif, Peduli sosial, Peduli lingkungan, Cinta damai, Toleransi, Demokratis, Menghargai Prestasi dan Gemar Membaca. Karena karakter-karakter tersebut terkandung pada seluruh kegiatan yang ada dalam pramuka.
Dalam pelaksanaan pembelajaran nilai karakter melalui kepramukaan ini tidak jarang ditemui beberapa kendala. Hal tersebut dapat berupa ketersediaan tempat untuk melaksanakan kegiatan secara optimal, kurangnya pembina dalam kegiatan kepramukaan, pengaruh kondisi cuaca yang terkadang menjadi hambatan, dan tidak semua anggota pramuka memiliki minat yang sama setiap harinya. Meski begitu, kegiatan kepramukaan ini telah banyak menunjukkan keefektifannya dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter pada setiap anggota pramuka (peserta didik). Namun, bukan berarti kegiatan sekolah lainnya tidak membantu pembentukan karakter secara efektif. Keseluruhan kegiatan pembelajaran dalam lingkup sekolah berusaha untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter pada diri peserta didik. Sebab jika hanya mengandalkan kegiatan kepramukaan, maka dikhawatirkan pengembangan nilai-nilai karakter tidak dapat menjadi budaya dan hanya dalam kegiatan kepramukaan saja. Sehingga perlu adanya kegiatan-kegiatan penunjang lain di sekolah guna meningkatkan dan membiasakan, serta membudayakan nilai-nilai karakter pada diri peserta didik. Dalam kegiatan pramuka untuk pemberian hukuman atau sanksi bagi para anggota yang melakukan kesalahan dan melanggar aturan, maka bentuk sanksi atau hukuman yang diberikan harus mendidik. Artinya, dalam memberi hukuman pada para anggota pramuka (peserta didik), tidak perlu dengan kekerasan. Hukuman yang diberikan cukup dengan hal-hal yang dapat membangun dan menumbuhkan karakter peserta didik. Misalkan, dengan memberi hukuman menyanyikan lagu nasional, membantu dalam serangkaian upacara pada saat kegiatan pramuka, dsb. Sehingga dalam kegiatan kepramukaan baik itu kegiatan inti maupun pada saat memberikan hukuman pun semua harus berdasarkan nilai-nilai karakter yang ada. Maka peserta didik akan senantiasa mengetahui, memahami, menyadari bahwasanya setiap kegiatan yang ia lakukan harus berlandaskan pada nilai-nilai karakter.


  1. Peranan Guru Dalam Pembelajaran Karakter Melalui Kepramukaan
Setelah diuraikan pada pembahasan sebelumnya mengenai pembelajaran nilai-nilai karakter pada kegiatan pramuka (kepramukaan), tentu tidak hanya para pembimbing saja yang berperan dalam membantu peserta didik yang merupakan anggota pramuka dalam pembelajaran karakter. Pada pembelajaran karakter dengan kepramukaan ini, guru diharapakan ikut andil dalam kegiatan tersebut. Dalam lingkungan sekolah guru tidak akan pernah kehilangan perannya. Dalam setiap kegiatan yang merupakan kegiatan akademi sekolah guru yang memiliki wewenang wajib turut serta dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan sesuai program sekolah. Sehingga dalam kaitannya dengan kepramukaan, setiap guru wajib untuk mengikuti. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pramuka tidak lantas diserahkan begitu saja pada para pembimbing kepramukaan melainkan harus dengan pengawasan dari guru.
Karena peran guru yang begitu banyak di sekolah, menunjukkan bahwa banyak pula tanggungjawab yang diterima oleh guru. Dalam kepramukaan dapat dimisalkan dengan ketika kepramukaan menyelenggarakan kegiatan berkemah, maka guru harus mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan pada setiap kegiatan dalam rangkaian acara perkemahan, guru juga harus mengikuti dan mengawasi peserta didiknya. Guru juga memiliki peran dan tugas dalam kegiatan upacara saat perkemahan. Salah seorang guru akan bertugas sebagai pemimpin upacara. Tidak sampai pada kegiatan tersebut, pembelajaran yang mengedepankan pendidikan karakter menuntut tenaga pendidik (guru) untuk memiliki dan menumbuhkan nilai-nilai karakter di dalam dirinya. Sehingga, seorang guru akan dapat menjadi teladan bagi peserta didiknya. Dari hal itulah, guru juga akan lebih mampu mengajarkan nilai-nilai karakter dengan baik kepada peserta didik. Dengan kegiatan kepramukaan ini menjadi salah satu media yang dapat digunakan oleh tenaga pengajar dalam memberikan teladan serta mengajarkan peserta didik dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter beserta aplikasinya secara nyata. Sehingga, akan dapat tercapai pembentukan peserta didik yang berkarakter dan mampu mengaplikasikannya serta membudayakan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.

PENUTUP

























DAFTAR PUSTAKA
Darmiyati Zuchdi dkk. (2009).  Pendidikan Karakter Grand Design dan Nilai-nilai  Target.  Yogyakarta: UNY Press.
Kemendiknas. 2010. Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum
Musfiroh, T. 2008. Pengembangan Karakter Anak Melalui Pendidikan  Karakter dalam  Character Building , (Editor : Arismantoro). Yogyakarta : Tiara Wacana
Muwafik Saleh, Akh., 2012. Membangun Karakter dengan Hati Nurani; Pendidikan  Karakter untuk Generasi Bangsa. Jakarta: Erlangga
Sudrajad, Djoko. “Hubungan nilai-nilai kepramukaan, karakter disiplin dan kerja keras terhadap prestasi belajar siswa”. Jurnal Online dalam http://eprints.uny.ac.id/10059/1/jurnal%20penelitian.pdf


Zein, Bunga. “Pembentukan karakter bangsa (proses dan nilai-nilai karakter bangsa) Dalam kegiatan pramuka”. Jurnal Online dalam http://skripsippknunj.com/wp-content/uploads/2013/02/jurnal-Bunga-Zen.pdf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar